Beranda blog Halaman 17

Pelatihan “Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren” oleh RMI Jateng di Pesantren Maslakul Huda Li Al Mubtadi’in

Pesantren Maslakul Huda Li Al Mubtadi’in adalah salah satu bagian dari Pesantren Maslakul Huda yang dikhususkan untuk anak tingkatan kelas diniyah ula, kelas VII, dan VIII Perguruan Islam Mathaliul Falah Kajen. Santri Pesantren Maslakul Huda Li Al Mubtadi’in berjumlah 140 santri. Dalam kesehariannya santri Mubtadi’in didampingi oleh 10 musyrif  (pembimbing). Musyrif tersebut dipilih dari santri senior pilihan Pesantren Maslakul Huda. Fungsi musyrif adalah mendampingi para santri yang masih kecil dalam berbagai hal, misalnya menjadi guru disaat mereka mengaji, mengatur uang jajan dan uang khoirot sekolah atau pondok, mengontrol akhlaq santri dalam bergaul dan lain sebagainya.

Kemarin hari kamis dan jum’at tanggal 26 – 27 November 2015, santri Mubtadi’in mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh RMI Jateng, bertema “Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren”. Suatu tema yang simpel, mudah dimengerti dan penuh makna. Tim Pelatihan ini Bapak Faiz Aminuddin dan mahasiswa IPMAFA.

Tujuan pelatihan ini adalah menumbuhkan semangat budaya hidup bersih sebagai seorang santri. Santri zaman sekarang harus lebih sadar tentang kebersihan diri sendiri dan kebersihan lingkungan. Sebenarnya dua hal tersebut satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Secara sederhana, jika lingkungan kotor banyak sampah berserakan dikamar tidur, kamar mandi, dan lingkungan pasti akan menimbulkan penyakit bermacam-macam misalnya saja plastik bekas jajan es yang dibuang di sembarangan tempat atau selokan pondok yang tersumbat karena sampah pasti akan digunakan sarang nyamuk. Bagaimana jika nyamuk itu nyamuk demam berdarah sudah pasti akan berbahaya bagi kesehatan santri itu sendiri.

Gambaran pelatihan tersebut pertama, semua santri berkumpul di musholla kemudian diberikan penjelasan mengenai latar belakang program pelatihan kebersihan bertema “Pesantrenku Bersih Pesantreku Keren” oleh Pak Faiz Aminuddin. Santri perlu tahu kenapa mereka harus memiliki Budaya Hidup Bersih apalagi mereka adalah seorang santri. Santri dikenalkan dengan istilah-istilah yang menarik seperti “Kamarmu adalah istanamu dan sampah adalah kesempatan amal ibadahmu”.

Kedua, santri membentuk kelompok-kelompok kecil, setiap kelompok didampingi satu mGambar 4ahasiswa IPMAFA. Pembentukan kelompok itu bertujuan agar anak menjadi lebih terfokus pada materi pembahasan. Dengan Monitor yang ada di Musholla, mereka diperlihatkan foto-foto kondisi lingkungan mereka yang sebagian ada yang tidak membuang sampah di tempatnya, kemudian disetiap kelompok disuruh mengomentarai kondisi tersebut. Rata-rata mereka jika disuruh mengungkapkan pendapatnya, muncul candaan-candaan dari mereka sehingga membuat ramai kondisi pelatihan. Sembari mereka mengomentari foto-foto tersebut kakak-kakak dari IPMAFA menerangkan bagaimana agar lingkungan tetap bersih. Setelah itu supaya santri tidak bosan, mereka diajak keluar mushola untuk melihat lingkungan mereka sendiri.

Ketiga, setelah merGambar 5eka mengetahui apa itu Budaya Hidup Bersih mereka disuruh praktik kerja bakti membersihkan kamar tidur, kamar mandi, dan lingkungan bermain mereka. Mereka terlihat bergembira mengikuti pelatihan tersebut. Menurut Mas Anwar salah satu mahasiswa IPMAFA, dia senang bersama dengan santri mubtadiin dari 10 santri yang menjadi kelompoknya 8 diataranya selalu aktif bertanya dan aktif mengikuti kerja bakti. Bahkan ketika membersihkan selokan pondok mereka mau dan tidak merasa bau.

Pak Faiz sebagai narasumber pelatihan, pelatihan ini bukan hanya menjadi pelatihan sehari yang akan berhenti saat pelatihan itu berakhir. Tetapi pelatihan ini akan benar-benar sesuai dengan harapannya yaitu menciptakan Budaya Hidup Bersih di Pesantren Maslakul Huda Li Al Mubtadi’in tidak hanya menjadi sebuah wacana saja. Kedepan rencananya pelatihan ini akan diadakan di beberapa pesantren-pesantren di Pati yang itu nanti akan dijadikan sebagai pesantren percontohan bagi pesantren-pesantren lainnya. Sehingga “Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren” akan menjadi selogan yang pantas diucapkan oleh santri dengan bangga pada pesantrennya masing-masing.

Gambar 2

Bapak Muhammad Nasir berziaroh ke Makam KH MA Sahal Mahfudh

Selang satu hari setelah Ibu Rini Menteri BUMN berkunjung ke Pesantren Maslakul Huda pada hari minggu 25 Oktober 2015 kemudian datang seorang Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi periode 2014 – 2019 Bapak Muhammad Nasir. Selain menjadi Menteri Kabinet Kerja Pak Jokowi beliau menjabat sebagai Rektor Undip periode 2014 – 2018 menggantikan rektor sebelumnya, Sudharto P. Hadi. Saat berkunjung, Bapak Muhammad Nasir tidak sendiri beliau didampingi oleh Bapak Bupati Pati H Haryanto beserta pengawal dari kepolisian.

Bapak Muhammad Nasir dan Pak Bupati datang ke Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putra (Pol Garul Utara) setelah menyampaikan sambutan dalam acara Khol Hadratussyaikh Mbah Bisri Syamsuri di Tayu, Pati, Jawa Tengah. M Nasir 1Sekilas sejarah Hadratussyaikh Bisri Syamsuri adalah murid dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pendiri NU di Pondok Pesantren Tebuireng bersama Abd. Wahab Chasbullah. Dan menjadi prajurit paling depan saat Kyai Hasyim Asy’ari menyatakan membela tanah air wajib hukumnya itu termasuk Jihad Akbar dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melawan penjajah. Tercatat beliau pernah menjadi kepala staf Markas Ulama Jawa Timur, Ketua Markas Pertahanan Hisbullah Sabilillah dan pernah menjadi Rois Amm NU menggantikan Kyai Wahab Chasbullah tahun 1968.  Dan Hadratussyaikh Mbah Bisri Syamsuri tidak lain adalah kakek Ibu Nyai Hajah Nafisah Sahal. Semoga Hadratussyaikh Mbah Bisri Syamsuri dan KH MA Sahal Mahfudh mendapatkan tempat yang baik di sisi Nya. Amin…

Ibu Nyai Nafisah dan putranya KH Abdul Ghafar Rozin (akrab disapa Guz Rozin), senang dengan kedatangan Bapak Mentri M Nasir dan Bapak Bupati Pati di Dalem Pesantren Maslakul Huda Kajen. Pembicaraan di ruang tamu Dalem sangat akrab dan hangat. Setelah Sowan ke Dalem Bapak M Nasir dan Bapak Bupati Pati beserta rombongan Ziaroh ke Makam KH MA Sahal Mahfudz diantarkan oleh KH Abdul Gafar Rozin. Tidak lupa saat Bapak M Nasir akan pamitan pulang beliau memberi dua buah filter air untuk bisa dimanfaatkan di Dalem PMH Putra. Sebelumnya bersama anak Delem dicoba dulu menggunakan air teh, ternyata setelah dimasukkan kedalam filter air teh keluar menjadi air putih yang tidak berasa dan sehat untuk dikonsumsi.Mutawakil

Ibu Rini meneteskan air mata di Makbaroh KH MA Sahal Mahfudh

BUMN2Mentri BUMN Ibu Rini M Soemarmo bersilaturahmi ke Pesantren Maslakul Huda pada hari Sabtu siang, tanggal 24 Oktober 2015. Begitu tiba Ibu Rini disambut senyum Ibu Nyai Nafisah Sahal dan Bapak Abdul Ghafar Rozin di Dalem Pesantren Maslakul Huda. Ibu Rini bersama rombongannya berkunjung ke Pesantren Maslakul Huda merupakan salah satu agenda kunjungannya di Jawa Tengah. Ibu Rini tidak sendirian beliau bersama sejumlah kolega BUMN antara lain Dirut PTPN XI Dolly Pulungan, ketua umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI, serta tokoh muda NU Misbahus Salam.

Kemudian Ibu Rini menyempatkan berziarah ke makbaroh Kiai MA Sahal Mahfudh di Pati, Jawa Tengah. Ibu Rini M Soemarno, secara khusus didampingi Ibu Nyai Nafisah Sahal istri almarhum Kiai Sahal Mahfudh dan Bapak Abdul Ghaffar Rozin putra KH MA Sahal Mahfudh.

Ibu Rini Soemarno nampak khusyuk berdoa di makam Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Ketua Majelis Ulama Indonesia 2000 – 2014 dan Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1999 – 2014, Kiai Sahal Mahfudh. Bahkan Rini M Soemaro terlihat menitikkan airmata ketika tangannya tengadah diantara doa ziarah untuk Kyai Sahal Mahfudh.

“Kiai Sahal, adalah sosok ulama yang nasehatnya banyak menginspirasi ucapan serta tindakan saya karena beliau demikian bijak dan bisa menjadi tauladan hidup,” tutur Rini M Soemarno.

Terlihat setelah berziaroh Ibu Rini Soemarmo bergandengan tangan dengan begitu eratnya dengan Ibu Nyai Nafisah Sahal menuju keluar wilayah makbaroh Kiai MA Sahal Mahfudh. Sembari keluar begitu banyak ibu-ibu yang mendapatkan kesempatan untuk berjabat tangan langsung dengan dua tokoh yang terkenal tersebut. BUMN5

Kirab Akbar Hari Santri Nasional di PMH Putra

kirab1Pada tanggal 22 Oktober 2015, Kirab Akbar Hari Santri Nasional mampir di pesantren Maslalkul Huda. Peserta Kirab berangkat dari Surabaya menuju Jakarta dengan mengunjungi beberapa pesantren di sepanjang perjalanan. Peserta kirab yang kurang lebih berjumlah 125 orang tersebut disambut oleh para santri. Marching Band Mathaliul Falah, Salafiyah dan beberapa personal dari Banser juga ikut memeriahkan penyambutan peserta kirab nasional tersebut.

Selama di pesantren Maslakul Huda peserta Kirab bertemu dengan Pengasuh KH. Abdul Ghoffar Rozin. Dalam sambutannya Gus Rozin mengajak peserta kirab dan santri untuk memeriahkan Hari Santri Nasional pertama ini. Gus Rozin mengingatkan agar Hari Santri Nasional ini dimakbai sebagai seruan agar kalangan santri berbenah diri meningkatkan kualitas dan memajukan pesantren.

kirab3 kirab2

Maslakul Huda Dirikan Pesantren Khusus

4. Ta'aruf
4. Ta’aruf

PATI – Pondok Pesantren Maslakul Huda (PMH) Kajen, Margoyoso, Pati terus berinovasi dalam mengembangkan lembaganya untuk menjawab tantangan zaman, terutama dalam merespons masalah kemasyarakatan. Itu ditunjukkan dengan mendirikan pesantren takhassus (khusus) ushul fikih yang dilaunching, kemarin.

Peluncuran pesantren baru di aula PMH itu dihadiri sejumlah tokoh, seperti sesepuh Kajen KH Aziz Yasin dan dosen UIN Syarif HIdayatullah Jakarta Dr Abdul Muqsith Ghozalie.

Pengasuh PMH KH Abdul Ghoffar Rozien mengemukakan, pesantren baru tersebut untuk menindaklanjuti gagasan dan warisan ide KH Sahal Mahfudh yang populer dengan konsep fikih sosialnya.

“Pesantren takhassus ini merupakan upaya untuk menggali pemikiran dan meneruskan ide Kiai Sahal Mahfudh tentang gagasan fiqh sosial. Diharapkan, pesantren takhassus dapat mencetak santri yang tidak hanya menguasai ilmu hukum Islam dengan kepakaran di bidang fikih dan ushul fikih, namun juga menjadi penggerak masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, putra Kiai Sahal yang akrab disapa Gus Rozien ini mengatakan, pendirian pesantren ushul fikih dibuka untuk santri-santri yang telah menguasai teks-teks keagamaan. Namun mereka masih membutuhkan pendalaman dalam pemahaman fikih dan ushul fikih.

Bangga

Sebagai ulama Kajen, Kiai Aziz Yasin merasa bangga dengan penerus Kiai Sahal yang konsisten melanjutkan perjuangannya. Dia berharap, akan semakin banyak kader pesantren yang melanjutkan dan mengembangkan gagasan sang kiai yang wafat setahun lalu.

Abdul Muqsith mengemukakan, pesantren takhassus menjadi pilihan penting di tengah tantangan keagamaan saat ini. Terutama kekhususan dalam bidang ushul fikih.

“Gagasan-gagasan fikih Kiai Sahal sangat luar biasa. Beliau sudah memulai sejak dari pesantren dan ketika di Nahdlatul Ulama. Muktamar NU di Situbondo menjadi catatan sejarah tentang kiprah Kiai Sahal dalam mengembangkan gagasan fikih sosialnya,” ungkapnya.

Menurutnya, sudah saatnya pesantren merintis kajian yang spesifik. Mengingat, belakangan dibutuhkan pakar hukum Islam yang tidak hanya menguasai teks, tetapi juga mengerti konteks. Sekaligus dapat merumuskan jawaban atas tantangan keagamaan masa kini. (H49-86)

Sumber: Suara Merdeka

Gerakan Ayo Mondok Digalakkan :Silaturahmi RMI Jateng dan Suara Merdeka

ayo mondok sm
PESANTREN menjadi tulang punggung punggung keberadaan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). NU menjadi besar karena dilahirkan dari rahim pesantren yang telah lama menjadi lembaga pendidikan di Nusantara. Untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk memondokkan anaknya ke pesantren, Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Wilayah (RMI) pun menggalakkan gerakan “Ayo Mondok”.

Ide dan gagasan untuk melakukan gerakan itu telah lama muncul di RMI Jawa Timur. Seiring berjalannya waktu, isu itu meredup. Di berbagai wilayah isu-dan gagasan ini juga tumbuh namun, hanya sekadar dalam obrolan antarsantri, kiai dan masyarakat.

Gerakan pun disambut oleh RMI Jateng dengan membuat kartun #Ayo- Mondok Pesantrenku Keren. Tak hanya berhenti dalam pembuatan karikatur, rapat program “Gerakan Nasional Ayo Mondok”, Senin, (4/5) di kantor TV9 Surabaya menajamkan bahwa “Gerakan Nasional Ayo Mondok” merupakan sebuah gerakan kampanye kepada publik akan pentingnya pendidikan pesantren melalui media massa maupun media sosial.

Tim kecil yang terdiri dari pengurus pusat RMI, RMI Jateng dan Jatim, dan pihak TV9 menyepakati memakai logo usulan RMI Jateng, dan peluncuran “Gerakan Nasional Ayo Mondok” secara serentak pada 1 Juni 2015 di kantor PBNU Jakarta.

Diperlakukan Setara

”Kami meminta seluruh komunitas santri NU pada tanggal tersebut untuk memasang logo di semua medsos yang dimiliki sekurang- kurangnya dua hari. Dan menyiapkan data pesantren yang diunggulkan untuk diunggah di website masing-masing sebagai informasi,” tutur Ketua RMI Jateng KH Abdul Ghaffar Rozien yang akrab disapa dengan Gus Rozien, saat bersilaturahmi dengan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Amir Machmud NS, di kantor Jalan Raya Kaligawe KM 5, Rabu (27/5).

Dikatakan, gerakan #AyoMondok dilakukan untuk menyosialisasikan pesantren pada masyarakat umum terutama masyarakat kelas menengah tanpa mengurangi rasa keinginan untuk ditempati kalangan tertentu. Karena di pesantren semua diberlakukan setara. Serta meyakinkan bahwa pesantren kompatibel dengan perkembangan dan oleh karenanya layak untuk dijadikan pilihan.

”Di Jawa Tengah ada 1.600 pesantren, tetapi belum selesai divalidasi ulang. Gerakan ini dilakukan karena dalam perjalanan RMI, ditemukan pesantren yang justru mengembangkan paham radikalisme, terutama di wilayah selatan dan Solo raya,” katanya.

Dalam kunjungannya itu, Gus Rozien juga didampingi Sekretaris RMI Jateng Muhammad Farid Fad, Departemen Media dan Informasi Munawir Aziz, Mukhammad Zulfa dan Hasan Ubaidillah, serta Depertemen Kerja sama Asep Cuwantoro. Mereka juga ditemui, Redaktur Wacana Harian Umum Suara Merdeka, Cocong Arief Priyono. Amir Machmud juga mengakui, Suara Merdeka dalam beberapa tahun ini juga sering diganggu kelompok yang menghegemoni media.

Suara Merdekapun tetap memberi ruang publik yang seimbang dan tidak mungkin memuat paham atau pesantren yang memuat ideologi secara verbal, tetapi memilih yang berkonteks aktual. (Muhammad Syukron-81)

Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/gerakan-ayo-mondok-digalakkan/

Gerakan Nasional “Ayo Mondok!”

Dalam rangka sosialisasi program gerakan nasional “Ayo mondok!”, lembaga yang

menaungi pondok pesantren se-Indonesia Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) cabang Pati,

menyelenggarakan diskusi dan pertemuan di Aula Pondok Pesantren Maslakul Huda Putra

Kajen Margoyoso Pati, (26/05/15). Acara ini menghadirkan bapak H. Muhtasit, S. Ag.

Perwakilan dari kanwil kemenag provinsi Jawa Tengah bidang PD Pontren, dan bapak H.

Abdul Ghoffar Rozin, ketua RMI Jawa Tengah sebagai narasumber dalam acara bertajuk

Sarasehan dan Silaturahim Pimpinan Pondok Pesantren se-Kab. Pati.

Salah satu agenda acara yang berlangsung selama sekitar 4 jam ini adalah

mensosialisasikan program sistem manajemen madrasah dan pesantren (SIMAPES) kepada

seluruh pimpinan pondok pesantren dari sekitar 110 pesantren yang ada di kabupaten Pati.

Sistem ini adalah sistem manajemen yang bersifat online maupun offline untuk

memudahkan bagi madrasah dan pondok pesantren bernaung di bawah RMI dalam bidang

pendataan sekaligus sebagai pusat informasi yang bersifat mutual.

Selain itu di akhir acara dilakukan pemilihan ketua dan pengurus Forum Komunikasi

Pondok Pesantren (FKPP) untuk tingkat kabupaten dan kecamatan di Pati. Hal itu untuk

memudahkan komunikasi antar pondok pesantren dengan kemenag dan RMI sendiri.

Dalam acara ini juga diselingi dengan diskusi kepesantrenan oleh para delegasi

pondok pesantren mengenai sarana, prasarana, anggaran dana, dan hal-hal yang terkait.

Seluruh acara diskusi tersebut berjalan dengan lancar hingga usai.

Sosialisasi Metode Ibtidai di Maslakul Huda

ibtidaiMujahidin Rahman (44) prihatin dengan kondisi saat ini. Keprihatinan itu muncul lantaran banyak kawula muda yang mulai tidak ngeh untuk mempelajari kitab kuning. Bagi mereka kitab salaf susah dipelajari. Meskipun ada yang masih mempelajarinya dalam pemaknaan kitab memakai huruf latin bukan makna pegon.

BIOGRAFI KH. MA. SAHAL MAHFUDZ

Nama lengkap KH. MA. Sahal Mahfudz (selanjutnya disebut dengan Kyai Sahal) adalah Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd. Salam Al-Hajaini lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937.
Beliau adalah anak ketiga dari enam bersaudara yang merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional.
Sebelum orang mengenal Kyai Sahal, orang akan mengenalnya sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Dengan penampilan yang sederhana orang mengira, beliau sebagai orang biasa yang tidak punya pengetahuan apapun. Namun ternyata pengetahuan dan kepakaran Kyai Sahal sudah diakui. Salah satu contoh, sosok yang menjadi pengasuh pesantren2 ini pernah bergabung dengan institusi yang bergerak dalam bidang pendidikan, yaitu menjadi anggota BPPN3 selama 2 periode yaitu dari tahun 1993-2003.
Kyai Sahal lahir dari pasangan Kyai Mahfudz bin Abd. Salam al- Hafidz (w 1944 M) dan Hj. Badi’ah (w. 1945 M) yang sedari lahir hidup di pesantren, dibesarkan dalam lingkungan pesantren, belajar hingga ladang pengabdiannya pun ada di pesantren. Saudara Kyai Sahal yang berjumlah lima orang yaitu, M. Hasyim, Hj. Muzayyanah (istri KH. Mansyur Pengasuh PP An-Nur Lasem), Salamah (istri KH. Mawardi, pengasuh PP Bugel-Jepara, kakak istri KH. Abdullah Salam ), Hj. Fadhilah (istri KH. Rodhi Sholeh Jakarta), Hj. Khodijah (istri KH. Maddah, pengasuh PP Assuniyah Jember yang juga cucu KH. Nawawi, adik kandung KH. Abdussalam, kakek KH. Sahal.).
Pada tahun 1968/69 Kyai Sahal menikah dengan Dra Hj Nafisah binti KH. Abdul Fatah Hasyim, Pengasuh Pesantren Fathimiyah Tambak Beras Jombang dan berputra Abdul Ghofar Rozin yang sejak sekarang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kepemimpinan Kyai Sahal.
A. Latar Belakang Kehidupan
KH. Sahal Mahfudz dididik oleh ayahnya yaitu KH. Mahfudz dan memiliki jalur nasab dengan Syekh Ahmad Mutamakkin, namun KH. Sahal Mahfudz sangat dipengaruhi oleh kekyainan pamannya sendiri, K.H. Abdullah Salam. Syekh Ahmad Mutamakkin sendiri termasuk salah seorang pejuang Islam yang gigih, seorang ahli hukum Islam (faqih) yang disegani, seorang guru besar agama dan lebih dari itu oleh pengikutnya dianggap sebagai salah seorang waliyullah.
Sedari kecil Kyai Sahal dididik dan dibesarkan dalam semangat memelihara derajat penguasaan ilmu-ilmu keagamaan tradisional. Apalagi Kiai Mahfudh Salam (yang juga bapaknya sendiri) seorang kiai ampuh, dan adik sepupu almarhum Rais Aam NU, Kiai Bisri Syamsuri. Selain itu juga terkenal sebagai hafidzul qur’an yang wira’i dan zuhud dengan pengetahuan agama yang mendalam terutama ilmu ushul.
Pesantren adalah tempat mencari ilmu sekaligus tempat pengabdian Kyai Sahal. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan ilmu fiqh tidak pernah diragukan Pada dirinya terdapat tradisi ketundukan mutlak pada ketentuan hukum dalam kitab-kitab fiqih dan keserasian total dengan akhlak ideal yang dituntut dari ulama tradisional. Atau dalam istilah pesantren, ada semangat tafaqquh (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan semangat tawarru’ (bermoral luhur).
Ada dua faktor yang mempengaruhi pemikiran Kyai Sahal yaitu, pertama adalah lingkungan keluarganya. Bapak beliau yaitu Kyai Mahfudz adalah orang yang sangat peduli pada masyarakat. Setelah Kyai Mahfudz meninggal, Kyai Sahal kemudian diasuh oleh KH. Abdullah Salam, orang yang sangat concern pada kepentingan masyarakat juga. Beliau adalah orang yang mendalami tasawuf juga orang yang berjiwa sosial tinggi. Dalam melakukan sesuatu ada nilai transendental yang diajarkan tidak hanya dilihat dari segi materi. Kyai Mahfudz orang yang cerdas, tegas dan peka terhadap persoalan sosial dan KH. Abdullah Salam juga orang yang tegas, cerdas, wira’I, muru’ah, dan murah hati. Di bawah asuhan dua orang yang luar biasa dan mempunyai karakter kuat inilah Kyai Sahal dibesarkan.
Yang kedua dari segi intelektual, Kyai Sahal sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam Ghazali. Dalam berbagai teori Kyai Sahal banyak mengutip pemikiran Imam Ghazali.13 Selama belajar di pesantren inilah Kyai Sahal berinteraksi dengan berbagai orang dari segala lapisan masyarakat baik kalangan jelata maupun kalangan elit masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran beliau. Selepas dari pesantren beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Perpaduan antara pengalaman di dunia pesantren dan organisasi inilah yang diimplementasikan oleh Kyai Sahal dalam berbagai pemikiran beliau.
Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi dan bacaannya cukup banyak terbukti beliau punya koleksi 1.800-an buku di rumahnya. Meskipun Kyai Sahal orang pesantren bacaannya cukup beragam, diantaranya tentang psikologi, bahkan novel detektif walaupun bacaan yang menjadi favoritnya adalah buku tentang agama. Beliau membaca dalam artian konteks kejadian. Tidak heran kalau Kiai Sahal—meminjam istilah Gus Dur—lalu ‘menjadi jago’ sejak usia muda. Belum lagi genap berusia 40 tahun, dirinya telah menunjukkan kemampuan ampuh itu dalam forum-forum fiqih. Terbukti pada berbagai sidang Bahtsu Al-Masail tiga bulanan yang diadakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya.
Kyai Sahal adalah pemimpin Pesantren Maslakul Huda Putra sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.
B. Pendidikan dan Guru-guru KH Sahal
Untuk urusan pendidikan, yang paling berperan dalam kehidupan Kyai Sahal adalah KH. Abdullah Salam yang mendidiknya akan pentingnya ilmu dan tingginya cita-cita. KH. Abdullah Salam tidak pernah mendikte seseorang. Kyai Sahal diberi kebebasan dalam menuntut ilmu dimanapun. Tujuannya agar Kyai Sahal bertanggung jawab pada pilihannya. Apalagi dalam menuntut ilmu Kyai Sahal menentukan adanya target, hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan beliau dalam belajar. Ketika belajar di Mathali’ul Falah Kyai Sahal berkesempatan mendalami nahwu sharaf, di Pesantren Bendo memperdalam fiqh dan tasawuf, sedangkan sewaktu di Pesantren Sarang mendalami balaghah dan ushul fiqh.
Memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (1943-1949), Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Setelah beberapa tahun belajar di lingkungannya sendiri, Kyai Sahal muda nyantri ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kiai Muhajir, Selanjutnya tahun 1957-1960 dia belajar di pesantren Sarang, Rembang, di bawah bimbingan Kiai Zubair. Pada pertengahan tahun 1960-an, Kyai Sahal belajar ke Mekah di bawah bimbingan langsung Syaikh Yasin al-Fadani. Sementara itu, pendidikan umumnya hanya diperoleh dari kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953).
Di Bendo Kyai Sahal mendalami keilmuan tasawuf dan fiqih termasuk kitab yang dikajinya adalah Ihya Ulumuddin, Mahalli, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, Bajuri, Taqrib, Sulamut Taufiq, Sullam Safinah, Sullamul Munajat dan kitab-kitab kecil lainnya. Di samping itu juga aktif mengadakan halaqah- halaqah kecil-kecilan dengan teman-teman senior. Sedangkan di Pesantren Sarang Kyai Sahal mengaji pada Kyai Zubair19 tentang ushul fiqih, qawa’id fiqh dan balaghah. Dan kepada Kyai Ahmad beliau mengaji tentang Hikam. Kitab yang dipelajari waktu di Sarang antara lain, Jam’ul Jawami dan Uqudul Juman, Tafsir Baidlowi tidak sampai khatam, Lubbabun Nuqul sampai khatam, Manhaju Dzawin Nazhar karangan Syekh Mahfudz At-Tarmasi dan lain-lain.
C. Tugas dan Jabatan
Kyai Sahal bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, atau seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, melainkan juga seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, dan juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Penghargaan yang diterima beliau terkait dengan masyarakat kecil adalah penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Peran dalam organisasipun sangat signifikan, terbukti beliau dua periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1999-2009) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2000-2010. Pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII (28/7/2005) Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), itu terpilih kembali untuk periode kedua menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2005-2010.
Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Donohudan, Boyolali, Jateng., Minggu (28/11-2/12/2004), beliau pun dipilih untuk periode kedua 2004-2009 menjadi Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Pada 26 November 1999, untuk pertama kalinya dia dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PB NU, mengetuai lembaga yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 30-an juta orang itu. KH Sahal yang sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005.
Selain jabatan-jabatan diatas, jabatan lain yang sekarang masih diemban oleh beliau adalah sebagai Rektor INISNU Jepara, Jawa Tengah (1989-sekarang) dan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati (1963 – Sekarang).
Sedangkan pekerjaan yang pernah beliau lakukan, adalah guru di Pesantren Sarang, Rembang (1958-1961), Dosen kuliah takhassus fiqh di Kajen (1966-1970), Dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati (1974-1976), Dosen di Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang (1982-1985), Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara (1989-sekarang), Kolumnis tetap di Majalah AULA (1988-1990), Kolumnis tetap di Harian Suara Merdeka, Semarang (1991-sekarang), Rais ‘Am Syuriyah PBNU (1999-2004), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI, 2000-2005), Ketua Dewan Syari’ah Nasional (DSN, 2000-2005), dan sebagai Ketua Dewan Pengawas Syari’ah pada Asuransi Jiwa Bersama Putra (2002-sekarang).
Sosok seperti Kyai Sahal ini kiranya layak menjadi teladan bagi semua orang. Sebagai pengakuan atas ketokohannya, beliau telah banyak mendapatkan penghargaan, diantaranya Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Maha Putra Utarna (2000) dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002).
Sepak terjang KH. Sahal tidak hanya lingkup dalam negeri saja. Pengalaman yang telah didapatkan dari luar negeri adalah, dalam rangka studi komparatif pengembangan masyarakat ke Filipina tahun 1983 atas sponsor USAID, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Korea Selatan tahun 1983 atas sponsor USAID, mengunjungi pusat Islam di Jepang tahun 1983, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Srilanka tahun 1984, studi komparatif pengembangan masyarakat ke Malaysia tahun 1984, delegasi NU berkunjung ke Arab Saudi atas sponsor Dar al-Ifta’ Riyadh tahun 1987, dialog ke Kairo atas sponsor BKKBN Pusat tahun 1992, berkunjung ke Malaysia dan Thailand untuk kepentingan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tahun 1997.
D. Karya-karya KH. MA. Sahal Mahfudz
Kyai Sahal adalah seorang pakar fiqih (hukum Islam), yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi ilmu tertentu yaitu dalam bidang ilmu Ushul Fiqih, Bahasa Arab dan Ilmu Kemasyarakatan. Namun beliau juga mampu memberikan solusi permasalahan umat yang tak hanya terkait dengan tiga bidang tersebut, contohnya dalam bidang kesehatan dan beliau menemukan suatu bagian tersendiri dalam fiqh.
Dalam bidang kesehatan Kyai Sahal mendapat penghargaan dari WHO dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menangani anak-anak balita (hampir seperti Posyandu). Selain itu juga mendirikan balai kesehatan yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam.
Berbicara tentang karya beliau, pada bagian fiqh beliau menulis seperti Al-Tsamarah al-Hajainiyah yang membicarakan masalah fuqaha, al-Barokatu al- Jumu’ah ini berbicara tentang gramatika Arab. Sedangkan karya Kyai Sahal yang berbentuk tulisan lainnya adalah:
  • Buku (kumpulan makalah yang diterbitkan):

 

  1. Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, (Surabaya: Diantarna, 2000)
  2. Pesantren Mencari Makna, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999)
  3. Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd”, (Semarang: Thoha Putra, 1999)
  4. Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, (Semarang: Suara Merdeka, 1997)
  5. Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994)
  6. Ensiklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al-Ij ma’). (Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987).
  7. Al-Tsamarah al-Hajainiyah, I960 (Nurussalam, t.t)
  8. Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
  9. Al-Faraid al-Ajibah, 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati)

 

  • Risalah dan Makalah (tidak diterbitkan):

 

  1. Tipologi Sumber Day a Manusia Jepara dalam Menghadapi AFTA 2003 (Workshop KKNINISNU Jepara, 29 Pebruari 2003).
  2. Strategi dan Pengembangan SDM bagi Institusi Non-Pemerintah, (Lokakarya Lakpesdam NU, Bogor, 18 April 2000).
  3. Mengubah Pemahaman atas Masyarakat: Meletakkan Paradigma Kebangsaan dalam Perspektif Sosial (Silarurahmi Pemda II Ulama dan Tokoh Masyarakat Purwodadi, 18 Maret 2000).
  4. Pokok-Pokok Pikiran tentang Militer dan Agama (Halaqah Nasional PB NU dan P3M, Malang, 18 April 2000)
  5. Prospek Sarjana Muslim Abad XXI, (Stadium General STAI al-Falah Assuniyah, Jember, 12 September 1998)
  6. Keluarga Maslahah dan Kehidupan Modern, (Seminar Sehari LKKNU, Evaluasi Kemitraan NU-BKKBN, Jakarta, 3 Juni 1998)
  7. Pendidikan Agama dan Pengaruhnya terhadap Penghayatan dan Pengamalan Budi Pekerti, (Sarasehan Peningkatan Moral Warga Negara Berdasarkan Pancasila BP7 Propinsi Jawa Tengah, 19 Juni 1997)
  8. Metode Pembinaan Aliran Sempalan dalam Islam, (Semarang, 11 Desember 1996)
  9. Perpustakaan dan Peningkatan SDM Menurut Visi Islam, (Seminar LP Ma’arif, Jepara, 14 Juli 1996)
  10. Arah Pengembangan Ekonomi dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Umat, (Seminar Sehari, Jember, 27 Desember 1995)
  11. Pendidikan Pesantren sebagai Suatu Alternatif Pendidikan Nasional, (Seminar Nasional tentang Peranan Lembaga Pendidikan Islam dalam Peningkatan Kualitas SDM Pasca 50 tahun Indonesia Merdeka, Surabaya, 2 Juli 1995)
  12. Peningkatan Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Berkualitas, (disampaikan dalam Diskusi Panel, Semarang, 27 Juni 1995)
  13. Pandangan Islam terhadap Wajib Belajar, (Penataran Sosialisasi Wajib belajar 9 Tahun, Semarang 10 Oktober 1994)
  14. Perspektif dan Prospek Madrasah Diniyah, (Surabaya, 16 Mei 1994)
  15. Fiqh Sosial sebagai Alternatif Pemahaman Beragama Masyarakat, (disampaikan dalam kuliah umum IKAHA, Jombang, 28 Desember 1994)
  16. Reorientasi Pemahaman Fiqh, Menyikapi Pergeseran Perilaku Masyarakat, (disampaikan pada Diskusi Dosen Institut Hasyim Asy’ari, Jombang, 27 Desember 1994)
  17. Sebuah Releksi tentang Pesantren, (Pati, 21 Agustus 1993)
  18. Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi dari Sudut Kajian Politis, (Forum Silaturahmi PP Jateng, Semarang, 5 September 1992).
  19. Kepemimpinan Politik yang Berkeadilan dalam Islam, (Halaqah Fiqh Imaniyah, Yogyakarta, 3-5 Nopember 1992)
  20. Peran Ulama dan Pesantren dalam Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Umat, (Sarasehan Opening RSU Sultan Agung, Semarang, 26 Agustus 1992).
  21. Pandangan Islam Terhadap AIDS, (Seminar, Surabaya,1 Desember 1992)
  22. Kata Pengantar dalam buku Quo Vadis NU karya Kacung Marijan, (Pati, 13 Pebruari 1992)
  23. Peranan Agama dalam Pembinaan Gizi dan Kesehatan Keluarga, Pandangan dari Segi Posisi Tokoh Agama, Muallim, dan Pranata Agama, (Muzakarah Nasional, Bogor, 2 Desember 1991)
  24. Mempersiapkan Generasi Muda Islam Potensial, (Siaran Mimbar Agama Islam TVRI, Jakarta, 24 Oktober 1991)
  25. Moral dan Etika dalam Pembangunan, (Seminar Kodam IV, Semarang, 18-19 September 1991)
  26. Pluralitas Gerakan Islam dan Tantangan Indonesia Masa Depan, Perpsketif Sosial Ekonomi, (Seminar di Yogyakarta, 10 Maret 1991)
  27. Islam dan Politik, (Seminar, Kendal, 4 Maret 1989)
  28. Filosofi dan Strategi Pengembangan Masyarakat di Lingkungan NU, (disampaikan dalam Temu Wicara LSM, Kudus, 10 September 1989)
  29. Disiplin dan Ketahanan Nasional, Sebuah Tinjauan dari Ajaran Islam, (Forum MUIII, Kendal, 8 Oktober 1988)
  30. Relevansi Ulumuddiyanah di Pesantren dan Tantangan Masyarakat, (Mudzakarah, P3M, Mranggen, 19-21 September 1988)
  31. Prospek Pesantren dalam Pengembangan Science, (Refreshing Course KPM, Tambak Beras, Jombang 19 Januari 1988)
  32. Ajaran Aswaja dan Kaitannya dengan Sistem Masyarakat, (LKL GP Anshor dan Fatayat, Jepara 12-17 Februari 1988)
  33. AIDS dan Prostisusi dari Dimensi Agama Islam, (Seminar AIDS dan Prostitusi YAASKI, Yogyakarta, 21 Juni 1987)
  34. Sumbangan Wawasan tentang Madrasah dan Ma’arif, (Raker LP Ma’arif, Pati, 21 Desember 1986)
  35. Program KB dan Ulama, (Pati, 27 Oktober 1986)
  36. Hismawati dan Taman Gizi, (Sarasehan gizi antar santriwati,
  37. Administrasi Pembukuan Keuangan Menurut Pandangan Islam, (Latihan Administrasi Pembukuan dan Keuangan bagi TPM, Pan, 8 April 1986)
  38. Pendekatan Pola Pesantren sebagai Salah Satu Alternatif membudayakan NKKBS, (Rapat Konsultasi Nasional Bidang, KB, Jakarta, 23-27 Januari 1984)
  39. Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Lokakarya Pendidikan Kependudukan di Pesantren, (Jakarta, 6-8 Januari 1983)
  40. Tanggapan atas Pokok-Pokok Pikiran Pembaharuan Pendidikan Nasional, (27 Nopember 1979)
  41. Peningkatan Sosial Amaliah Islam, (Pekan Orientasi Ulama Khotib, Pati, 21-23 Pebruari 1977)
  42. Intifah al-Wajadain, (Risalah tidak diterbitkan)
  43. Wasmah al-Sibydn ild I’tiqdd ma’ da al-Rahman, (Risalah tidak diterbitkan)
  44. I’dnah al-Ashhdb, 1961 (Risalah tidak diterbitkan)
  45. Faid al-Hija syarah Nail al-Raja dan Nazhdm Safinah al-Naja, 1961 (Risalah tidak diterbitkan)
  46. Al-Tarjamah al-Munbalijah ‘an Qasiidah al-Munfarijah, (Risalah tidak diterbitkan)

Pesantren Kiai Sahal Luncurkan Program Takhassus Ushul Fiqh

1421103366Tengah malam itu, Jumat, 24 Januari 2014, Rais Aam Syuriah PBNU KH MA Sahal Mahfudh dinyatakan berpulang ke rahmatullah. Kiai Sahal wafat di kediamannya setelah beberapa hari dirawat di RSUD Dr Kariadi Semarang, Jawa Tengah.