Beranda blog

PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD ALY PESANTREN MASLAKUL HUDA TAHUN AKADEMIK 2022/2023

A. Ketentuan Umum Pendaftaran

1. Pendaftar adalah lulusan Madrasah Aliyah, SMA, Mu’adalah Aliyah, PDF Ulya, atau  Pesantren yang setara
2. Tidak menghadapi permasalahan hukum

B. Persyaratan Administrasi

  1. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 250.000,- disetorkan ke No. Rekening Bank BANK SYARIAH INDONESIA 7174251538 a/n MA HAD ALY PESANTREN MASLAKUL HUDA

2. Mengisi Formulir Pendaftaran (bisa diakses di sini) yang dilengkapi dengan upload dokumen sebagai berikut:

    • Scan Ijazah pendidikan terakhir yang telah dilegalisasi atau Surat Keterangan dari Pesantren
    • Scan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga dan KTP
    • File pas foto warna terbaru background merah ukuran 3 x 4 cm
    • Bukti transfer biaya pendaftaran

C. Jadwal Pendaftaran

Penerimaan Santri Baru dilaksanakan pada:

    • Gelombang I    : 3 Februari s.d. 17 April 2022 M / 1 Rajab s.d 14 Ramadhan 1443 H
    • Gelombang II   : 9 s.d. 19 Mei 2022 M / 8 s.d. 18 Syawal 1443 H
    • Jam Layanan    : 09.00 – 15.00 WIB
    • Contact Person : 085643879112 (Izzul) / 081-229-111-400 (Hamim)
    • Email               : kantor@mahally.ac.id

D. Alur Penerimaan Santri Baru

  1. Calon Santri Ma’had Aly mendaftarkan diri sesuai ketentuan;
  2. Calon Santri Mengikuti Ujian Seleksi Baca Kitab Fathul Qarib dan atau Fathul Mu’in
  3. Santri yang diterima melakukan daftar ulang / validasi.

E. Jadwal Ujian Seleksi

    • Gelombang I    : 18 Ramadan 1443 H / 21 April 2022 M
    • Gelombang II   : 20 Syawal 1443 H / 21 Mei 2022 M

Note:

💠 Persiapkan semua file berkas yang akan diunggah sebelum mengisi formulir;
💠 Formulir Pendaftaran bisa diedit jika diperlukan (menggunakan email yang sama);
💠 File berkas dapat disusulkan jika ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;
💠 Apabila ada kendala saat pengisian formulir dapat menghubungi CP di atas;
💠 Peserta dapat memilih ujian secara offline (datang ke Ma’had Aly) atau secara online;
💠 Mekanisme ujian akan diinformasikan lebih lanjut;
💠 Apabila ada perubahan terkait ketentuan di atas akan diinformasikan kembali.

Brosur Penerimaan Santri Baru Tahun Akademik 2022/2023 Gelombang I

Isra’ Mi’raj Rasionalkah? atau irasional Sehingga Hanya Merupakan Sesuatu yang Harus diimani Belaka?

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Al-Israa’ (17:1) : “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui.”

Isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW. merupakan sesuatu yang tidaklah asing didengar oleh telinga kita, karena merupakan hal yang pada umumnya diperingati oleh umat muslim tiap tahunnya. Bagi umat muslim, hal ini merupakan sesuatu yang wajib diyakini karena merupakan sesuatu yang diceritakan oleh lisan yang paling jujur yakni Nabi SAW. karena salah satu sifat wajib bagi rasul adalah ash-shidqu (jujur). Akan tetapi, manusia sebagai makhluk yang berakal sudah sewajarnya akan condong untuk lebih mempercayai sesuatu yang bisa dinalar oleh akal (rasional), karena hal tersebut dirasa lebih dapat dipercaya dan dapat dibuktikan kebenarannya ketimbang sesuatu yang sifatnya tidak logis/tidak masuk akal (irasional) yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan dirasa mustahil. Lalu bagaimanakah dengan peristiwa isra’ mi’raj? Apakah ia rasional? Jika tidak, maka apakah ia irasional? Sehingga merupakan sesuatu yang diyakini didasarkan pada keimanan belaka?

Untuk menjawab pertanyaan ini, seyogyanya kita memahami terlebih dahulu bagaimana terjadinya peristiwa isra’ mi’raj ini. Di dalam tafsir Qurtubi dijelaskan :

فَأَمَّا الْمَسْأَلَةُ الْأُولَى- وَهِيَ هَلْ كَانَ إِسْرَاءً بِرُوحِهِ أَوْ جَسَدِهِ، اخْتَلَفَ فِي ذَلِكَ السَّلَفُ وَالْخَلَفُ، فَذَهَبَتْ طَائِفَةٌ إِلَى أَنَّهُ إِسْرَاءٌ بِالرُّوحِ، وَلَمْ يُفَارِقْ شَخْصُهُ مَضْجَعَهُ، وَأَنَّهَا كَانَتْ رُؤْيَا رَأَى فِيهَا الْحَقَائِقَ، وَرُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ حَقٌّ. ذَهَبَ إِلَى هَذَا مُعَاوِيَةُ وَعَائِشَةُ، وَحُكِيَ عَنِ الْحَسَنِ وَابْنِ إِسْحَاقَ. وَقَالَتْ طَائِفَةٌ: كَانَ الْإِسْرَاءُ بِالْجَسَدِ يَقَظَةً إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ، وَإِلَى السَّمَاءِ بِالرُّوحِ، وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى:” سُبْحانَ الَّذِي أَسْرى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى” فَجَعَلَ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى غَايَةَ الْإِسْرَاءِ. قَالُوا: وَلَوْ كَانَ الْإِسْرَاءُ بِجَسَدِهِ إِلَى زَائِدٍ عَلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى لَذَكَرَهُ، فَإِنَّهُ كَانَ يَكُونُ أَبْلَغُ فِي الْمَدْحِ. وَذَهَبَ مُعْظَمُ السَّلَفِ وَالْمُسْلِمِينَ إِلَى أَنَّهُ كَانَ إِسْرَاءً بِالْجَسَدِ وَفِي الْيَقَظَةِ، وَأَنَّهُ رَكِبَ الْبُرَاقَ بِمَكَّةَ، وَوَصَلَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَصَلَّى فِيهِ ثُمَّ أُسْرِيَ بِجَسَدِهِ. وَعَلَى هَذَا تَدُلُّ الْأَخْبَارُ الَّتِي أَشَرْنَا إِلَيْهَا وَالْآيَةُ. وَلَيْسَ فِي الْإِسْرَاءِ بِجَسَدِهِ وَحَالِ يَقَظَتِهِ اسْتِحَالَةٌ، وَلَا يُعْدَلُ عَنِ الظَّاهِرِ وَالْحَقِيقَةِ إِلَى التَّأْوِيلِ إِلَّا عِنْدَ الِاسْتِحَالَةِ، وَلَوْ كَانَ مَنَامًا لَقَالَ بِرُوحِ عَبْدِهِ وَلَمْ يَقُلْ بِعَبْدِهِ. وَقَوْلُهُ” مَا زاغَ الْبَصَرُ وَما طَغى ” يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ. وَلَوْ كَانَ مَنَامًا لَمَا كَانَتْ فِيهِ آيَةٌ وَلَا مُعْجِزَةٌ ص208 – تفسير القرطبي – سورة الإسراء آية – المكتبة الشاملة الحديثة

Apakah perjalanan isra’ mi’rajnya Nabi dengan ruh atau jasadnya? ulama salaf & khalaf berbeda-beda pendapat dalam masalah ini. Ada golongan yang berpendapat bahwasannya isra’ mi’rajnya Nabi adalah dengan ruh, dan jasadnya Nabi tidak meninggalkan tempat tidurnya (pendapatmya Mu’awiyah & Sayyidah ‘Aisyah). Dan dihikayatkan dari Hasan bin Ishaq bahwasannya ada juga golongan yang mengatakan isra’nya Nabi SAW sampai Baitul Maqdis itu dengan jasad secara sadar, dan naik ke langit dengan ruh, dengan dalil bunyi ayat :

“سُبْحانَ الَّذِي أَسْرى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى”

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha”

Allah menjadikan Masjidil Aqsha akhir dari perjalanan Nabi, sehingga mereka berkata: jikalau isra’nya Nabi dengan jasad itu melebihi masjidil Aqsha, niscaya Allah akan menuturkannya. Karena hal tersebut lebih mengena di dalam memuji Nabi SAW. Dan sebagian besar ulama salaf dan para orang muslim mengatakan bahwasannya isra’nya Nabi itu dengan jasad dan secara sadar. Isra’nya Nabi secara sadar itu tidaklah mustahil, sehingga tidaklah boleh memalingkannya dari makna zahir & hakikat, yakni lafaz بعبده dimaknai روحًا و جسدًا ( hamba dimaknai dengan jasad beserta ruhnya) kepada makna takwil, kecuali ketika hal tersebut mustahil. Jikalau isra’ mi’rajnya Nabi itu terjadi secara mimpi, niscaya Allah akan berkata dengan lafadz بروح عبده (dengan ruh hamba-Nya) tidak dengan lafadz بعبده (dengan hamba-Nya). Hal ini juga dikuatkan dengan firman Allah SWT :

مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

An-Najm (53:17) : “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.”

Dan juga jikalau isra’ mi’rajnya Nabi itu terjadi secara mimpi, niscaya isra’ mi’raj tersebut tidak menjadi sebuah tanda akan kebesaran Allah dan tidak pula menjadi sebuah mu’jizat.

Berdasarkan penjelasan di dalam tafsir Qurtubi di atas, kita dapat mengetahui bahwasannya para ulama sendiri berbeda pendapat mengenai isra’ mi’raj Nabi apakah dengan ruh atau jasadnya saja. Bagi golongan yang mengatakan bahwasannya peristiwa tersebut terjadi dengan ruhnya Nabi saja (terjadi secara mimpi), maka hal ini jelas menjadi rasional. Dan tidak akan ada yang mengingkarinya, karena hal ini jelas bisa saja terjadi.

Akan tetapi, bagi golongan yang mengatakan bahwasannya isra’ mi’raj Nabi tersebut ruhan wa jasadan ( dengan ruh dan jasadnya), maka hal ini jelas menjadi permasalahan, karena bagaimanakah caranya seseorang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain kemudian naik ke langit ke sidratul muntaha dalam waktu yang sangat singkat, yang bahkan Sayyidah ‘Aisyah sendiri mengatakan bahwasannya Nabi tidak melihat Allah? Sayyidah’ Aisyah berkata :

مَنْ زعم أنّ محمّدا رأى ربّه فقد أعظم الفرية على الله

“Barangsiapa yang meyakini bahwasannya Nabi Muhammad pernah melihat tuhannya, maka sungguh ia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” (HR Bukhari no. 4855).

Oleh Karena itu, jelaslah hal ini tidak rasional. Lalu apakah ini berarti bahwa hal ini irasional? Mungkin kebanyakan orang akan beranggapan begitu, namun sebenarnya hal tidak rasional belum tentu merupakan sesuatu yg irasional. Karena di antara rasional dan irasional ada satu lagi cara berpikir yang mungkin sering terlupakan oleh kebanyakan orang atau bahkan tidak diketahui, yakni cara berpikir suprarasional. Suprarasional merupakan cara berpikir yang menunjukkan sesuatu diluar nalar, yakni sesuatu yang tidak bisa di nalar oleh pikiran kita. Hal ini disebabkan keterbatasan yang ada pada diri kita sendiri, seperti halnya pandangan mata kita, sebaik apapun mata kita, kita tidak akan bisa melihat sesuatu yg ada di balik dinding, sesuatu yang amat jauh. Hal ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan mata kita, karena kemampuan manusia itu terbatas.

Sebagai penutup, isra’ mi’raj memang bukanlah hal yang rasional, akan tetapi ia juga bukanlah hal yang irasional, melainkan ia adalah hal yang suprarasional. Peristiwa ini merupakan kehendak Allah yang tidak bisa dinalar oleh pikiran manusia, karena terbatasnya kemampuan akal manusia terkhusus untuk memahami hal hal yang ghaib. Dan cukuplah menjadi bukti akan adanya hal hal yang suprarasional ialah kejadian alam semesta, terciptanya manusia, hewan, tumbuhan dan lain – lain.

Sesuatu yang tidak terbatas tidak akan bisa dibatasi oleh sesuatu yang terbatas”  

KH. M.A. Sahal Mahfudh


Oleh Hafizh Al-Mundziry, Santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda semester V.

 

 

 

 

 

 

Senjata Pesantren dalam Menghadapi Gempuran Kemajuan Teknologi

Mahally–Seperti yang sudah banyak diketahui bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan berbasis agama dan termasuk dari pendidikan nasional. Secara historis, pesantren sebenarnya tidak hanya sarat akan nilai-nilai keislaman saja, akan tetapi di dalamnya juga terdapat makna keaslian Indonesia (indigenous). Di zaman sekarang pesantren sudah menyebar di pelbagai daerah di Indonesia.

Terutama di pulau Jawa sendiri, pendidikan pesantren tidak bisa lepas dari peran para Wali Sanga, yakni tokoh penyebar agama Islam yang telah berhasil mengombinasikan berbagai tatanan kehidupan masyarakat Jawa dengan nilai-nilai spiritual Islam yang mana mereka hidup di abad sekitar ke 15-16. Banyak yang beranggapan dan sepakat bahwa Wali Sanga merupakan pemimpin umat yang saleh pada saat itu dan dengan pemahaman spiritual-religius yang mendalamnya mampu mengenalkan agama Islam di bumi Jawa yang sebelumnya monotheisme menjadi mengenal Islam bahkan mayoritas memeluknya. Dalam perkembangan selanjutnya, pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang dengan masing-masing kulturnya serta menyebar di banyak belahan wilayah Indonesia.
Berbedanya kultur di masing-masing pesantren itu menghasilkan jenis pesantren yang berbeda pula, ada pesantren salafiyyah (lama) dan ada pesantren khalafiyyah (baru/modern).

Pesantren salafiyyah dalam sistem pengajarannya lebih condong kepada pendalaman ilmu agama dengan tetap melestarikan tradisi-tradisi lama pesantren, seperti pembelajaran kitab-kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan lain sebagainya. Adapun pesantren khalafiyyah secara umum dalam sistem pengajarannya memiliki sistem pembelajaran yang hampir sama dengan pesantren salafiyyah yakni pendalaman ilmu agama dengan kitab-kitab klasik namun juga menambahkan dan menggunakan kurikulum dari pemerintah.

Baik pesantren salafiyyah maupun khalafiyyah, dalam hubungannya dengan sumber daya manusia, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi-generasi intelektual muslim yang mampu menjadi tauladan di tengah masyarakat sekelilingnya serta menyeimbangkan diri di tengah-tengah gempuran tuntutan zaman masa kini. Contoh nyata dari lulusan pesantren yang memiliki integritas dan intelektual yang tinggi yakni Gus Dur, KH. M. A Sahal Mahfudh, KH. Maimoen Zubair dan masih banyak lainnya.

Kunci dari terwujudnya harapan-harapan di atas yakni adanya pembaruan dalam pelbagai aspek seperti halnya kurikulum, sarana-prasarana, manajemen(pengelolaan), guru, sistem evaluasi, dan teknologi yang terus menerus dilakukan bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat karena pesantren bukan hanya milik umat Islam saja, melainkan milik seluruh komponen bangsa Indonesia. jika aspek-aspek yang telah disebutkan tadi tidak mendapatkan perhatian serius dan tidak menyesuaikan dengan tuntutan zaman (dimoderenisasi) maka eksistensi pesantren itu sendiri akan terancam. Dalam kata lain, pesantren-pesantren yang ada hingga masa kini harus memiliki kemauan dan keberanian untuk beradaptasi dengan zaman dalam menghadapi era globalisasi. Dengan disahkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang sistem pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-undang Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan dapat menjadi peluang yang bagus bagi pesantren untuk membentuk karakter santri menjadi manusia Indonesia yang mampu menghayati serta bertingkah laku islami tanpa diskriminasi terhadap pendidikan pesantren seperti yang sudah berlangsung selama ini.

Pada abad ke 21 ini, globalisasi memberikan banyak dampak ke berbagai bidang aspek salah satunya teknologi. Arus kemajuan teknologi yang berkembang dengan cepat ini secara dramatis berimplikasi terhadap pemikiran kita mengenai ruang, jarak, waktu, budaya, pola hidup dan perilaku. Bangsa Indonesia sendiri telah mentransformasi sedemikian rupa beberapa aspek sosial dan budaya secepat mungkin termasuk dalam bidang teknologi yang telah berpadi dengan proses pembaruan atau yang dikenal dengan istilah reformasi. Reformasi merupakan bentuk pengoreksian terhadap kesalahan-kesalahan di masa lalu yang bertujuan untuk perbaikan di bidang sosial, politik, agama, pendidikan, dan lain sebagainya dalam suatu masyarakat atau negara. Namun, sisi gelap dari reformasi ini adalah jika Indonesia tidak hati-hati dalam mengelola pembaruan tersebut, maka akan terjadi benturan di segala sisi yang dapat merusak nilai-nilai bangsa yang selama ini telah dipelihara dengan baik wujud semangat kesatuan dan persatuan. Disini lah peran agama sangat penting dalam rangka memagari dan mengontrol nilai-nilai yang bersebrangan dengan kepribadian dan budaya bangsa Indonesia yang telah terbentuk selama ini. Berkaitan dengan hal ini, secara tidak langsung peran pesantren juga dianggap penting sebab pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis agama yang mana dalam kesehariannya para murid didik atau yang lebih dikenal dengan sebut santri, tidak hanya ditanamkan nilai-nilai keagamaan saja namun juga nila-nilai semangat kesatuan dan persatuan.

Sebagaimana halnya di Amerika yang mana internet mulai muncul dari lingkungan akademisi, demikian pula halnya dengan di Indonesia. Internet mulai muncul dari lingkungan akademisi yang kemudian kemunculan tersebut juga diharapkan bisa memasuki ranah pesantren sebab teknologi itu sendiri tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan dunia pendidikan termasuk akademisi non formal seperti pesantren.

Statemen yang mengatakan bahwa pesantren dinilai terbelakang atau tertinggal dalam menghadapi gelombang globalisasi itu salah besar. Sebenarnya, jika ingin melirik kepada sumber dari agama islam sendiri, yakni al-Qur’an, merupakan sumber dari segala pengetahuan jika dipelajari secara mendalam. Adapun di bidang teknologi, pesantren masa kini baik salafiyyah maupun khalafiyyah terbilang sudah mampu untuk mengikuti dan menyeimbangi tuntutan zaman.

Berbeda dengan pesantren zaman dahulu yang mana sarana dan prasarananya sangat terbatas jadi tak jarang menyulitkan para santrinya untuk mengakses informasi dunia luar . Setidaknya hanya ada koran yang bisa menjadi mediator para santri untuk mengetahui perkembangan situasi dan kondisi dunia luar. Pesantren masa kini justru sudah mengalami banyak perkembangan positif di bidang teknologi. Teknologi dan internet sudah seharusnya tidak lagi dianggap tabu, sebab adanya teknologi dan internet di pesantren dapat memberikan kemudahan bagi santri untuk mengakses informasi dan ilmu pengetahuan mengenai dunia luar. adapun berkaitan dengan dampak negatife yang ditimbulkan dari internet, semestinya dengan bekal pengetahuan sufisme yang sudah diajarkan kepada para santri bisa menjadikannya lebih siap dalam menghadapi pelbagai dampak negatif dari internet dan menjadi semacam filter alamiah dalam menangkal pelbagai dampak negatif tersebut.

Salah satu manfaat dari masuknya teknologi informasi dan komunikasi ke lingkungan pesantren yaitu terevolusinya pola hidup, cara berkomunikasi, dan belajarnya para santri menjadi lebih efisien, efektif, dan praktis. Era informasi ini juga memberikan ruang lingkup yang besar untuk dapat mengorganisasi segala kegiatan di lingkungan pesantren dengan metode-metode baru, inovatif, dan instan. Pun adanya tuntutan perbaikan mutu dan kualitas penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar karena ditunjang dengan berbagai fasilitas yang sebagian besar memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya memasuki lingkungan pesantren khalafiyyah (modern) saja, namun juga lingkungan pesantren salafiyyah. Meskipun pesantren salafiyyah masih menggunakan sistem pengajaran tradisional, hal itu tidak lantas menutup kemungkinan untuk masuknya teknologi informasi dan komunikasi ke dalam lingkungan pesamtren salafiyyah. Salah satu contoh nyata yaitu Pesantren Maslakul Huda yang berada di Kabupaten Pati, Jawa tengah dan diasuh oleh KH. Abdul Ghofar Rozin. Untuk sistem pengajaran di pesantren salafiyyah satu ini memang masih memakai sistem tradisional, namun fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang disediakan sudah terbilang mumpuni. Pesantren Maslakul Huda memiliki perpustakaan bagi para santri yang berisi beraneka macam buku mulai dari kitab kuning klasik, kitab kuning kontemporer, buku ilmu pengetahuan umum, majalah fashion terkini hingga novel dari berbagai genre, juga tersedia laboratorium komputer yang difungsikan sebagai wadah bagi para santri untuk mengembangkan keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Selain fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer, pada tahun 2020 silam pesantren Maslakul Huda mengirimkan beberapa perwakilan santri dari unit pesantrennya untuk mengikuti pelatihan Program Laptop for Builders dan Kompetisi Santri 4.0 dengan tema “Dari Santri untuk Pesantren dan Umat Islam” yang diadakan oleh RMI PBNU yang bekerja sama dengan Amazon Web Service yakni layanan berbasis Cloud Computing yang disediakan oleh perusahaan Amazon.com dalam rangka mewujudkan daya saing santri dalam bidang teknologi yang bertujuan untuk mencetak Santri Digital.

Dari contoh yang telah disebutkan di atas, ini menunjukkan bahwa pesantren masa kini mampu untuk mengahadapi rintangan zaman dan beradaptasi serta mengambil pelbagai inovasi dengan kemajuan perkembangan zaman melalui jalur teknologi informasi dan komunikasi.

Disadari atau tidak, informasi tidak hanya kebutuhan saja, melainkan juga bisa menjadi sumber kekuatan yang mana ia bisa memanipulasi kehidupan dan menjadi alat kendalinya di satu waktu. Maka dari itu dibutuhkan kebijakan-kebijakan dalam penggunaan teknologi informasi. penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan pesantren secara bijak justru akan menjadi perantara sekaligus kekuatan dalam berdakwah bil hikmah wal mauidhoh serta amar makruf nahi munkar.

Kolaborasi antara pesantren yang dikenal menjadi tempat pelatihan spiritual-religiusitas dan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan bisa membangun dan mendorong kualitas manusia menjadi lebih maju dan inovatif lagi melalui cara pengentasan kebodohan, kemunduran, kemiskinan, dan mengukuhkan akhlak yang terpuji sehingga pesantren bisa menghasilkan manusia-manusia yang unggul baik dari bidang spiritual-religiusitas dan bidang teknologi. jika hal yang demikian sudah terealisasi dengan dengan angka presentase yang tinggi, maka masyarakat Indonesia dianggap sudah siap dan mampu menjadi masyarakat madani, yakni baldatun thayyibatun wa robbun ghofur.


(Iffi Millah Kamilah Achmad, Sabtu 06 Agustus 2022, 03:10 WIB) Penulis adalah Santri semester V Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda.

Ma’had Aly PMH Adakan Muhadloroh Ammah, Waketum PBNU Ungkap Pemikiran Fikih Syekh Nawawi al-Bantani

Senin (13/06), civitas akademika Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda sukses melaksanakan kegiatan Muhadloroh Ammah dengan tema “Pemikiran Fikih Syekh Nawawi al-Bantani” bersama narasumber KH. Zulfa Mustofa yang merupakan Wakil Ketua Umum PBNU dan dimoderatori oleh K. MA. Abdulloh Haris, wakil Mudir Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda. Kegiatan Muhadloroh Ammah tersebut bertempat di Aula Mubtadiat lt. II yang dihadiri oleh para santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda, mudir, para muhadlir, pengasuh YPMH, serta para tamu undangan dari pesantren dan perguruan tinggi sekitar.
Adapun rangkaian acara pada kegiatan tersebut ialah;
  1. pembukaan oleh MC
  2. pembacaan ayat suci Al-Qur’an
  3. menyanyikan Indonesia Raya
  4. sambutan pengasuh yayasan Pesantren Maslakul Huda
  5. acara inti; Muhadloroh Ammah
  6. pembacaan doa
  7. penyerahan hadiah 3 penanya terpilih
  8. penyerahan cinderamata kepada narasumber
  9. penutup oleh MC

Dalam sambutan yang disampaikan oleh pengasuh YPMH, KH. Abdul Ghofarrozin, beliau sedikit banyak menceritakan tentang Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau juga berharap dengan adanya kegiatan tersebut yang bertajuk pada fikih, semoga para santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda mampu mendalami ilmu fikih Ushul fikih secara mendalam.
“Ini menjadi hal penting karena Ma’had Aly di sini terfokuskan pada takhassus ushul fikih. Kita berharap semoga Ma’had Aly kita bisa menumbuhkan santri-santri yang memahami uhsul fikih secara mendalam.” Ungkap Gus Rozin.

Berangkat dari tema yang diusung pada kegiatan Muhadloroh Ammah tersebut, muncul beberapa pertanyaan mengenai Syekh Nawawi al-Bantani. Seperti apa corak pemikiran fikih beliau?
Apa kontribusi pemikiran beliau untuk bumi Nusantara?

Menginjak acara inti, yakni Muhadloroh Ammah. KH. Zulfa Mustofa merupakan cucu keponakan dari Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau juga merupakan teman sebangku Gus Rozin saat belajar di Madrasah Matholi’ul Falah, memang sejak dulu KH. Zulfa terkenal menyukai dan ahli dalam ilmu Arudl, yaitu ilmu yang menggubah syair dalam bahasa Arab. Dalam paparannya, beliau senandungkan beberapa bait syair gubahan pribadi yang juga dituangkan dalam salah satu masterpiece beliau, yaitu kitab Tuhfatu al-Qaasi wa ad-Daani fi Tarjamah asy-Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani. Salah satunya dalam memuji Syekh Nawawi, KH. Zulfa mengatakan:

وَمِنْ كِبَارِ عُلَمَاءِ الْجَاوِي ۝ التَّنَارِيُّ الأَصْلِ ثُمَّ الصَّاوِي

ِالْبَنْتَنِيُّ ثُمَّ الْأَنْدُوْنِيْسِيْ ۝ شَيْخُ الحِجَازِ سَمَّاهُ الْأُنَاسي

Artinya: “Dan diantara para pembesar ulama Jawa yaitu Syekh Nawawi Al-Jawi At-Tanari Ash-Shawi Al-Bantani al-Andunisi, yang juga diberi gelar dengan Sayyid Ulama al-Hijaz”

Menurut KH. Zulfa, dalam berfikih Syekh Nawawi memegang kuat dua prinsip, yaitu الثباتة (keteguhan) dalam hal-hal yang ashliyah dan qath’iyah, dan المرونة (kelenturan) pada hal-hal yang bersifat furu’iyah, sebagaimana sikap beliau yang meskipun mengharamkan rokok, namun tetap menerima jika ada teman ataupun tamu yang merokok di dekatnya. Selain itu, menurut KH. Zulfa, ajaran fikih Syekh Nawawi juga tergambarkan dalam kalimat:

الشريعة عدل كلها رحمة كلها حكم كلها مصالح كلها. فخرج من العدل إلى الجور ومن اليسر إلى العسر ومن الرحمة إلى ضدها فليس من الشريعة.

Artinya: “Inti daripada syariat adalah seluruhnya berisi keadilan, Rahmat, hikmah-hikmah, dan maslahah. Maka setiap yg keluar dari keadilan kepada penindasan, dari kemudahan kepada kesulitan, dan dari rahmat kepada selainnya, maka itu bukan termasuk dalam syariat.”

Di akhir penyampaiannya, beliau mendendangkan 2 bait syair lagi, menyindir terhadap  umat di era sekarang ini:

ما أكثر الدعاة من علماء اليوتوبي
فأفتى بالمشهد بلا رجع الكتب
ياحسرتا للغوغيل لأخذ السبب
وانما العلم بالإسناد والطلب

“Banyak orang berfatwa dari ulama YouTube
Melihat realita tidak membaca kutub
Bagi yang belajar dari Google disayangkan
Dengan sanad ilmu dikejar juga dengan tuntutan”

Penyerahan hadiah kepada 3 penanya terpilih
____________________

Oleh: Tim jurnalistik Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda

INTI ZAKAT: SIMBOL TANGGUNGJAWAB PENGELOLAAN HARTA

INTI ZAKAT:

SIMBOL TANGGUNGJAWAB PENGELOLAAN HARTA

Uraian Mengenai Zakat

Tiga pertanyaan berkenaan dengan zakat datang kepada saya. Pertama, tata cara menghitung zakat. Kedua, pemberian zakat di bulan Ramadlan. Dan ketiga pandangan kewajiban suami mengeluarkan zakat untuk istri yang sudah mempunyai penghasilan sendiri.

Untuk menjelaskan tata cara menghitung zakat, sebenarnya sederhana sekali, yaitu dengan mengalkulasikan semua kekayaan dan harta benda yang diperdagangkan, kemudian mengeluarkan zakat 2,5% bila hitungan tersebut telah mencapai nishab, (batas minimal seseorang berkewajiban membayar zakat).

Sebagaimana dijelaskan pengarang kitab Fathu Al-Qadir, dari kalkulasi tersebut pemiliknya berkewajiban mengeluarkan 2,5% darinya bila hitungannya telah mencapai nilai emas 77,30 Gram. Ditambah satu ketentuan lagi, perhitungan itu harus dilakukan ketika harta itu telah mencapai genap satu tahun (al-Haul).

Jika kedua hal itu (ketentuan nishab dan al haul) tidak terpenuhi, kewajiban membayar zakat menjadi gugur. Selain itu, juga ada satu persyaratan lagi, barang dagangan itu milik pribadi, bukan milik istri, anak-anak yang telah aqil baligh, atau orang lain jika terjadi pencampuran harta. Menurut al Anshari, dalam kitabnya, al Tahrir, yang memang telah memenuhi syarat satu nisab (meski dipisahkan belum mencapai) dan telah genap satu tahun, maka status harta tersebut tidak dibedakan dari harta milik orang lain. Hal itu dengan pengertian bahwa ketentuan zakatnya sebagaimana bila dimiliki oleh satu orang. Contoh konkret dari percampuran harta tersebut adalah seperti ketika harta suami dan istri k dikumpulkan untuk modal perdagangan yang kemudian diwujudkan dalam barang-barang pertokoan.

Sedangkan waktu pembayaran zakat, jika memang telah mencapai hitungan satu nisab dan genap satu tahun, seketika itu pula zakat harus dikeluarkan dengan tidak membenarkan adanya penundaan misalnya sampai bulan Ramadlan tiba.

Meski demikian, menunda pengeluaran zakat demi kemaslahatan yang lebih besar, misalnya menunggu adanya orang miskin yang lebih membutuhkan, dalam fiqh tidak ada hukum pelarangan, bahkan dinilai sebagai tindakan yang afdlal, lebih utama.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami, menunda memberikan zakat, tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan yang bermanfaat lebih besar, hingga bulan Ramadlan tiba tidak diperbolehkan, meski bulan tersebut teramat bernilai untuk memperbanyak ibadah. Karena masalah yang ada tidak kembali kepada penerima zakat, tetapi kembali kepada pihak pemberi.

Berbeda dengan zakat fitrah yang membayarnya dilakukan pada bulan Ramadlan. Dengan alasan ta’jil, cara mengeluarkan zakat sebelum waktu yang ditetapkan tiba, masih dalam batas toleransi.

Selanjutnya mengenai nafkah yang ditanyakan sebagaimana keterangan al-Syarqawi, secara singkat dapat diterangkan bahwa nafkah seorang istri lebih kaya daripada suami.

Karenanya, dalam masalah zakat fitrah yang wajib mengeluarkan atas istrinya adalah suami, tanpa memperdulikan bahwa istri mampu mengeluarkan zakat dengan hartanya sendiri. Karena dalam zakat fitrah seseorang yang mempunyai tanggung jawab memberikan nafkah, berkewajiban pula mengeluarkan zakat atas semua orang yang wajib di nafkahinya.

Namun, tidak menutup kemungkinan seorang istri merelakan hartanya dipegang suami yang kurang mampu, untuk digunakan sebagai nafkah. Tindakan itu dimaksudkan untuk menjaga kehormatan suami, agar tercipta kerukunan hidup dalam keluarga dengan saling membantu dan bersama-sama membina keluarga yang sakinah.

*Sumber: KH. MA. Sahal Mahfudh, Wajah Baru Fiqh Pesantren, (Jakarta: Citra Pustaka bersama KMF Jakarta), Cet. I November 2004. pernah dimuat di Harian Umum Suara Merdeka, dialog dengan Kyai Sahal, Jumat, 29 Desember 1995. Judul asli: Masalah Zakat dan Tanggung Jawab Suami

 

 

 

 

PRINSIP FIQH MENGHINDARI KESENJANGAN

PRINSIP FIQH MENGHINDARI KESENJANGAN

(Uraian Mengenai Menghadiri Halal Bi halal Diselenggarakan Secara Mewah)

Lebaran yang lalu, santri saya mendapatkan undangan halal bi halal. Sebelumnya ia ragu apakah harus menghadirinya atau tidak. Pasalnya, di saat kehidupan masyarakat masih diwarnai berbagai macam bentuk penderitaan, halal bi halal itu justru diselenggarakan dengan amat mewah atau setidaknya menghabiskan biaya cukup besar.

Dalam masalah tersebut, saya sarankan santri saya untuk selalu berpegangan pada satu prinsip bahwa acara halal bi halal sama sekali bukan merupakan bagian dari prinsip-prinsip undang dasar ajaran Islam.

Dari beberapa sikap dan perilaku Rasul, Islam hanya mengajarkan untuk saling meminta maaf (istihlal) antar sesama umat manusia. Wujud pelaksananya adalah datang dari pintu ke pintu, baik tetangga maupun yang lain.

Jadi, jelas tidak ada ketentuan harus melalui satu pertemuan yang di dalamnya antara lain mengagendakan acara berjabat tangan dan bermaaf-maafan, meski cara terakhir itu juga belum tentu menyimpang dan bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasul. Tidak terdapat satu permasalahan yang secara serius perlu dipersoalkan dalam hal bagaimana seharusnya menanggapi undangan halal bi halal. Fiqh, sebagai seperangkat hukum yang mengatur sendi-sendi kehidupan, tidak mempunyai aturan baku mengenai hal ihwal acara tersebut.

Karena itu, sebagai satu hal yang tidak berkenaan dengan tuntutan hukum pelarangan dan penganjuran, halal bi halal diberlakukan menurut kaidah fiqh yang telah ada. Artinya, boleh-boleh saja untuk dihadiri dan tentu boleh pula untuk ditinggalkan. Kaidah al aslu al Ibahah masih terus relevan untuk mendasarinya, selama pelaksanaan halal bi halal secara penuh tetap terjiwai oleh norma-norma yang diperbolehkan, tanpa unsur larangan dan perintah. ini sikap semula untuk memperlakukan acara tersebut.

Namun, karena ketika pelaksanaan merembet ke masalah-masalah lain, lebih-lebih yang menyangkut prinsip, maka fiqh akan berbicara dengan pembahasan berbeda. Sikap kita pun tidak selamanya terpaku pada satu patokan, yaitu sikap awal mula. Karena perwujudan istihlal dan meminta maaf akan bisa berjalan lebih maksimal jika ditunjang acara semacam halal bi halal, maka fiqh kemudian datang dengan membawa satu anjuran, baik terhadap penyelenggaraan maupun menghadiri undangan.

Namun, bukan berarti fiqh adalah satu hal yang tidak menentu, melainkan karena eksistensi fiqh memang berfungsi sebagai perangkat hukum yang lebih menitikberatkan pada unsur-unsur kemaslahatan. tidak pula berbeda dari kasus-kasus lain.

Pada prinsipnya, penyelenggaraan halal bi halal tidak ada masalah. Faktor kemewahan, sebatas tidak israf (berlebihan), sebenarnya juga tidak perlu dipermasalahkan. Namun karena praktik sesuatu yang tidak bermasalah itu ternyata mampu menimbulkan kesenjangan sosial, dengan mereka yang hidupnya di bawah standar ekonomi, sehingga berakibat teramat fatal, maka pelaksanaannya berubah menjadi satu hal yang dilarang.

Kalau penyelenggaraan halal bi halal terjadi kemungkinan demikian, sebagai muslim kita harus bersikap; menghadiri undangan itu tidak lagi diperbolehkan, karena sudah barang tentu kita ikut berkecimpung dalam suatu yang dilarang.

Sikap tersebut sebagaimana penegasan dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, ketika satu larangan sulit dihindari tanpa meninggalkan hal lain (dalam kasus ini menghadiri undangan terlebih dahulu), maka hal lain tersebut diperintahkan untuk ditinggalkan.

Apalagi, halal bi halal yang status hukumnya sekadar ibabah (boleh), undangan-undangan yang wajib untuk dihadiri sekalipun, resepsi akad pernikahan misalnya, keharusan menghadirinya tidaklah selalu mutlak. Masih harus dipertimbangkan unsur-unsur mudarat yang ditimbulkan. Karena, antara lain faktor-faktor pemilahan antara si miskin dan si kaya. kewajiban menghadiri undangan menjadi gugur seketika.

*Sumber: KH. MA. Sahal Mahfudh, Wajah Baru Fiqh Pesantren, (Jakarta: Citra Pustaka bersama KMF Jakarta), Cet. I November 2004. pernah dimuat di Harian Umum Suara Merdeka, dialog dengan Kyai Sahal, Jumat,31 Maret 1995. Judul asli: Menghadiri Halal Bi Halal yang Mewah

 

 

 

 

 

MA’HAD ALY PESANTREN MASLAKUL HUDA MITRA PBSB KEMENAG RI 2022

Pada tahun akademik 2022/2023 calon santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh dapat mendaftarkan diri melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).

Program tersebut merupakan kerjasama Kementerian Agama RI dengan beberapa perguruan tinggi mitra, salah satunya adalah Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh.

PBSB dilaksanakan dalam bentuk pemberian beasiswa penuh bagi santri yang memiliki kemampuan akademik, kematangan pribadi, kemampuan penalaran, dan potensi untuk dapat mengikuti program pendidikan tinggi.

Informasi selengkapnya dapat diakses melalui tautan https://ditpdpontren.kemenag.go.id/pbsb/

Upaya Santri Milenial: Membendung Kabar Hoax dan Mencegah Masuknya Paham Radikalisme di Era Digital

Upaya Santri Milenial: Membendung Kabar Hoax dan Mencegah Masuknya Paham Radikalisme di Era Digital

Oleh: Sandi Juliyansyah

Era digital saat ini, di mana informasi dan teknologi berkembang begitu pesat. Berbagai macam dan bahkan ribuan informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat hanya dengan hitungan detik. Informasi yang dulunya dapat diperoleh melaui lisan ke lisan, surat kabar, koran, buku, jurnal ilmiah dan majalah, kini dapat diperoleh melalui gawai internet. Pada tataran praktis, hal ini dapat dikatakan sebagai kabar baik, karena berbagai informasi begitu mudah dan cepat diakses, tanpa harus keluar rumah terlebih dahulu untuk membeli koran, majalah dan sebagainya. Namun, disisi lain, tak jarang informasi yang diperoleh tidak mencapai tingakat kevaliditasan. Sehingga banyak kabar-kabar hoax yang tersebar dan masuknya paham-paham radikalisme yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.

Sebagai anak bangsa yang menyandang gelar santri, sudah seharusnya memberikan kontribusi dalam menahan lajunya arus penyebaran informasi hoaxs dan faham-faham radikalisme di negeri tercinta Indonesia. Santri sebagai agen perubahan harus lebih terbuka terhadap dunia luar dan perubahan zaman. Artinya, di samping memperdalam ilmu agama (tafaqquh fi ad-din), para santri juga harus membekali diri dengan keterampilan dalam dunia digital. Karena hal tersebut merupakan keniscayaan pada zaman ini yang harus disikapi secara bijak. Keterampilan dalam dunia digital ini kerap dikenal dengan istilah literasi digital. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Abdulloh Hamid dalam bukunya “Literasi Digital Santri Milenial” beliau memberikan konklusi tentang defenisi literasi digital secara sederhana yaitu, sebuah kemampuan untuk memahami dan mengunakan informasi dalam berbagai format dari beragam sumber yang disajikan melalui komputer atau secara digital. [1]

Adanya keterampilan dalam dunia digital, selain dituntut untuk dapat mengerti, memahami dan memanfaatkan sumber informasi dalam berbagai format, para santri juga diharapkan mampu mengoprasikan berbagai perangkat lainya yang mendukung. Hal ini tidak lain, agar para santri mampu beradaptasi dan berperan dalam dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan demikian, penyebaran informasi yang sifatnya tidak valid dapat difilter secara teliti. Sehingga informasi yang diperoleh bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya. Dalam buku yang sama Dr. Abdulloh Hamid juga memetakan tentang konsep strategi dalam meninjau kebenaran suatu informasi yakni:[2]

  1. Konsep Tabayun

Tabayun ialah mengkonfirmasi atau melakukan cek dan ricek atas kabar apapun. Karena sejatinya, suatu informasi atau kabar bisa saja salah bisa juga benar. Pada dasarnya, tabayun merupakan konsep al-Qur’an untuk lebih selektif dalam menerima suatu kabar atau informasi bersamaan dengan melakukan konfirmasi tentang kebenarannya.

  1. Konsep Tashawwur dan Tashdiq

Dalam dunia pesantren kedua istilah ini memang sangat populer. Secara bahasa Tashawwur dapat berarti menggambarkan atau membayangkan, sedangkan secara istilah dapat didefenisikan sebagai pengetahuan atau gambaran terhadap sesuatu yang tidak disertai penghukuman atas sesuatu tersebut (idrak al-syai’ ma’a ‘adami al-hukmi ‘alaihi). Tashawur dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu; ada yang bersifat dharuriy (tidak butuh penalaran terlebih dahulu) dan ada yang bersifat nazhariy (membutuhkan penalaran). Hanya saja tashawwur yang sifatnya dharuriy dan nazhariy ini tidak boleh disebarkan. Sedangkan Tashdiq secara bahasa bermakna pembenaran atau persetujuan. Tashdiq dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu; dharuriy dan nazhariy. Sederhananya, jika tashawwur adalah hanya sebuah gambaran maka tashdiq adalah tashawwur (gambaran) yang disertai dengan hukum.

  1. Konsep Ilmu Takhrij al-Hadits

Dalam penjelasannya, Dr. Abdulloh Hamid mengutip pendapat dari Mahmud Thahan dalam Taysiru Musthalahil Hadits yang menggemukakan bahwa syarat hadits shahih ialah:

ما اتّصل سنده بنقل العدل الضابط عن مثله الى منتهاه من غير شذوذ و لا علة

“Setiap hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil, yang kuat hafalanya dari awal sampai akhir sanad, tidak terdapat syadz (keraguan) dan ‘ilat (cacat).”

Kelima syarat di atas, merupakan kreteria yang diterapkan pada kajian sanad dan hanya syarat yang keempat dan kelima yang digunakan pada kajian matan. Menurut beliau konsep Takhrij al-Hadits ini dapat dijadikan sebagai strategi dalam melihat kebenaran informasi yang beredar, yaitu dilihat dari siapa pembawa informasinya dan juga dilihat dari redaksi atau isi dari informasinya.

Kemudian, selain membendung lajunya arus peneyebaran berita-berita hoax, seyogyanya para santri juga ikut berpartisipasi dan berkontribusi dalam mencegah masuknya paham-paham radikalisme dalam negara Indonesia. Radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem masyarakat sampai ke akarnya.[3] Jika paham ini dibiarkan untuk terus menjelajah di samudra bumi nusantara, maka tentu hal ini akan memberikan dampak buruk bagi keutuhan NKRI. Dengan adanya perkembangan teknologi yang sedemikian rupa, peluang masuknya paham radikalisme juga semakin besar, terutama melalui media sosial.

Di era digital saat ini, para santri dituntut untuk melek akan teknologi, hal ini bertujuan untuk menyebarluaskan pandangan-pandangan islam yang moderat. Karena di era ini, media dakwah tidak hanya secara offline (berada dalam satu majelis) tapi juga secara online melalui media sosial. Adanya peran santri di media sosial diharapkan dapat memukul mundur paham-paham radikalisme dan dapat membumikan ajaran-ajaran islam yang moderat. Sehingga kedaulatan dan keutuhan NKRI akan senantiasa aman, terjaga dan jauh dari kata “kehancuran”.

Oleh sebab itu, para santri harus menjunjung tinggi nasionalisme. Nasionalisme merupakan paham kebangsaan dan cinta tanah air. Nasionalisme harus tertancap kuat dalam sanubari anak bangsa terkhusus bagi para santri demi menjaga semangat mempertahankan, siap berkorban dan berjuang demi bangsa dan negara sehingga keberagaman dari aspek agama, suku dan budaya dapat tetap terpelihara dan tetap menjadi power (kekuatan) riil yang memperkokoh kedaulatan NKRI. Dengan demikian, akan tercipta suasana kehidupan yang damai sentosa, saling menghargai, mengasishi dan melindungi satu sama lain.[4]

Pada dasarnya potret nasionalisme telah di gambarkan oleh Rasulallah SAW, hal ini terbukti ketika perjalanan hijrah menuju Madinah, di tengah perjalanan Rasulallah sangat merindukan tanah kelahiranya yaitu kota Makkah. Kemudia malaikat Jibril datang bertanya; “ya Rasulallah, apakah engkau merindukan negerimu?”, lalu Rasulallah menjawab; “Ya”. Kemudian turunlah ayat:[5]

إنّ الذي فرض عليك القرآن لرادّك إلى معاد ( القصاص:85)

“Sesungguhnya Allah yang mewajibkan kepadamu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an, maka Allah benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Makkah).” (QS. Al-Qashas:85)

Dalam pandangan Isma’il Haqiqi bin Musthafa al-Hanafi dalam Tafsir Ruh al-Bayan juz 4/320, ayat di atas mengandung isyarat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman.[6]

و في تفسير الآية إشارة إلى أنّ حبّ الوطن من الإيمان

Bahkan Sayyidina Umar bin Khatab Ra mengatakan:

لولا حبّ الوطن لخرب بلد السوء، فبحبّ الأوطان عمرت البلدان

“Seandainya saja tidak ada cinta pada tanah air, niscaya negeri yang terpuruk akan semakin hancur, maka dengan adanya cinta pada tanah air , negeri-negeri akan termakmurkan”

Melihat untaian pemaparan di atas, dapat ditarik konklusi bahwa dalam menyikapi era digital saat ini yang banjir akan informasi. Para santri harus lebih teliti dalam memilah informasi yang ada agar tidak salah mengambil informasi. Ada tiga trik atau konsep yang ditawarkan oleh Dr. Abdulloh Hamid dalam bukunya “Literasi Digital Santri Milenial” yaitu; Tabayyun, Tashawwur dan Tashdiq serta Ilmu Takhrij al-Hadits. Kemudian dalam mencegah masuknya paham radikalisme dalam negara Indonesia, yaitu para santri harus ikut berperan aktif dalam berdakwah di media sosial dan menjunjung tinggi nasionalisme, dalam rangka membumikan ajaran-ajaran Islam yang moderat serta sebagai upaya memukul mundur paham-paham radikalisme. Upaya-upaya ini tidak lain bertujuan untuk menjaga eksistensi NKRI agar tetap aman, terjaga dan jauh dari kata “kehancuran”. Sebagaimana jargon yang masyhur:

حبّ الوطن من الإيمان

 

REPERENSI

  1. Abdulloh Hamid, Literasi Digital Santri Milenial, Jakarta: kompas gramedia, cetakan ke-2, 2021, hal. 123.
  2. , hal. 137 – 151.
  3. https://katadata.co.id/safrezi/berita/61e664b8b2ff9/radikalisme-adalah-pahamyang menghendaki-perubahan-ini-penjelasannya
  4. Tim Bahtsul Masail HIMASAL, Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di tengah Kebhenikaan, cetakan Lirboyo Press dan LTN Himasal Pusat, 2018, hal. 14.
  5. , hal. 15 – 16.
  6. Isma’il Haqiqi bin Musthafa al-Hanafi dalam Tafsir Ruh al-Bayan, al-Maktabah as-syamilah, juz 4, hal. 320. Dikutip dari buku Tim Bahtsul Masail HIMASAL, Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di tengah Kebhenikaan. cetakan Lirboyo Press dan LTN Himasal Pusat, 2018, hal. 16

Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam

Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam

Oleh: Dama Adawiyan Ilyasi

Isu toleransi antar umat beragama di Indonesia merupakan salah satu isu keagamaan yang sering memunculkan perdebatan di kalangan publik. Beberapa waktu yang lalu, isu ini sempat muncul ke publik dan menimbulkan perdebatan sengit ketika seorang mubaligh menyampaikan pidato di dalam sebuah gereja di daerah Jakarta. Kasus inilah yang pada akhirnya menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, bagi kalangan yang setuju, masuknya mubaligh ke gereja bukanlah suatu hal yang salah, karena itu merupakan wujud toleransi dalam beragama. Sedangkan bagi kalangan yang kontra, masuknya mubaligh ke gereja dianggap sebagai suatu tindakan yang menyimpang dari syariat, karena hal itu merupakan bentuk kerelaan (ridha) terhadap kekufuran. Sampai saat ini masalah seperti demikian nampaknya masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan awam, sebenarnya bagaimana konsep toleransi antar umat beragama yang diajarkan oleh Islam, dalam wujud seperti apa ajaran toleransi diimplementasikan. Oleh karenanya, dalam tulisan ini, akan dipaparkan bagaimana konsep toleransi yang diatur oleh syariat Islam.

Sebelum lebih jauh membahas perihal konsep toleransi dalam Islam, ada baiknya untuk dicantumkan terlebih dahulu pengertian toleransi itu sendiri. Kata toleransi adalah bentuk kata benda (nomina), sedangkan kata sifatnya ialah toleran. Dalam KBBI, kata toleran memiliki arti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Kata toleransi ini diambil dari bahasa latin “tolerare” yang artinya dengan sabar membiarkan sesuatu. Dalam kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, kata toleransi berasal dari kata سمح yang mempunyai arti mengizinkan, membolehkan, membiarkan, memberi hak, menyetujui. Jadi, pengertian toleransi secara luas adalah sifat/sikap manusia yang menghargai/menghormati pendirian dan pilihan orang lain yang berbeda dengan pendiriannya.

Kembali ke inti pembahasan, di agama Islam terdapat ketentuan khusus terkait sikap toleransi antar umat beragama, konsep toleransi antar umat beragama telah termaktub di dalam wahyu, baik Al-Qur’an maupun sunnah. Untuk lebih jelasnya, akan diuraikan satu-persatu konsep-konsep toleransi dalam Islam beserta dalilnya dari nash Al-qur’an dan sunnah beserta penjelasan dari para ulama.

1. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk agama Islam, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 256:

ﵟلَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٥٦ﵞ [البقرة: 256]

Artinya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Sebab turunnya ayat ini—sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir at-Thabari dari sahabat Ibnu Mas’ud—adalah saat itu terdapat salah seorang sahabat dari kaum anshar yang bernama Hushain, ia memiliki dua anak beragama nasrani. Pada suatu ketika, ia memaksa kedua anaknya untuk masuk Islam, akan tetapi kedua anaknya tidak berkenan. Akhirnya terjadi perdebatan di antara mereka bertiga hingga akhirnya diadukan kepada Rasulullah Saw. dan kemudian turunlah ayat ini yang menegaskan tidak ada unsur keterpaksaan dalam memeluk agama Islam, karena bukti dan dalil kebenaran agama Islam sudah sangat jelas dan tidak butuh pemaksaan lagi.

2. Dilarang menghina agama/kepercayaan lain (Q.S. al-An’am ayat 108)

ﵟوَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرۡجِعُهُمۡ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٠٨ﵞ [الأنعام: 108]

Artinya: “”Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 108)

Dalam ayat ini, Allah Swt. mencegah umat Islam dari mencela sesembahan nonmuslim. Alasannya karena, jika umat Islam mencela sesembahan nonmuslim, maka nonmuslim tersebut akan melakukan balasan dengan menghina Allah Swt. secara zalim dan melampaui batas, padahal Allah tersucikan dari hal-hal yang mereka tuduhkan kepada-Nya. Ayat ini mengandung hikmah yang dalam, di mana sebuah kemaslahatan harus ditinggalkan ketika ia beresiko menimbulkan mafsadah yang lebih besar. sebagaimana bunyi kaidah:

درأ المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menghina sesembahan nonmuslim bisa mendatangkan maslahat, karena hal itu merupakan bentuk penghinaan terhadap kekufuran. Akan tetapi, menghina sesembahan nonmuslim juga bisa mendatangkan mafsadah, bahkan lebih besar jika dibandingkan maslahat yang ada, yaitu balasan nonmuslim dengan menghina Allah Swt.

3. Tidak ikut campur akidah dan ibadah agama lain (Q.S. al-Kafirun 1-6)

ﵟقُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ﵞ

Artinya: “”Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!(1), Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah(2), dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah(3), dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah(4), dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah(5), Untukmu agamamu, dan untukku agamaku(6).”

Ibnu Abbas menceritakan sebab turunnya ayat ini, bahwa Nabi pernah didatangi oleh beberapa orang kafir Quraisy, (mereka adalah Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin Abdul Muthallib, Umayyah bin Khalaf). Mereka mengajak Nabi untuk bersekutu dalam urusan peribadatan. Mereka bersedia menyembah Allah Swt. dengan catatan jika Nabi juga bersedia menyembah sesembahan mereka, lantas turunlah surat ini yang secara tegas menolak tawaran dari kafir Quraisy tersebut.

4. Boleh melakukan transaksi/bekerjasama dengan orang-orang non-muslim asalkan tidak dalam kemaksiatan (Q.S. al-Mumtahanah ayat 8-9).

ﵟلَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٨ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ أَن تَوَلَّوۡهُمۡۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٩ﵞ [الممتحنة: 8-9]

Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (8). Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim(9).”

Kedua ayat di atas menerangkan bagaimana sikap yang harus dipegang oleh seorang muslim terhadap keberadaan orang kafir. Pertama, sikap musālamah (berdamai). Hal ini ditujukan kepada kafir yang tidak memerangi umat Islam dan tidak mengusir kaum muslimin dari tanah mereka. Bagi kaum muslim diperkenankan untuk berbuat baik kepada mereka, seperti saling memberi, silaturahmi dan sebagainya. Kedua, sikap mu’ādah (bermusuhan). Sikap ini ditujukan bagi kafir yang memerangi umat Islam, kaum muslimin diperbolehkan, bahkan terkadang diwajibkan untuk memerangi mereka karena kezaliman yang telah mereka lakukan terhadap umat Islam.

Berdasarkan keterangan yang telah dipaparkan di atas, bisa disimpulkan bahwa agama Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama, karena toleransi antar umat beragama merupakan hal yang baik, untuk menciptakan sebuah kemaslahatan dalam urusan dunia. Akan tetapi jangan sampai penerapan toleransi antar umat beragama dilakukan melewati batas-batas yang telah ditentukan oleh syariat Islam. Jangan sampai atas nama toleransi seseorang mengatakan semua agama sama, atau beribadah dengan berbagai macam ajaran agama. Karena inti dari toleransi adalah sebuah sikap menenggang rasa terhadap kepercayan orang lain, tanpa intervensi dan ikut campur terhadap kepercayaan mereka.

Referensi

[1] Ibnu Jarir at-Thabari, Jāmi’ al-bayān ‘an ta’wīli āyi al-qur’ān, Mekkah, Daar at-Tarbiyyah wa At-turats, cet. tanpa tahun, Vol. 5, Hal. 409.

[2] Wahbah az-Zuhaily, at-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Daar al-Fikr, 1991. Vol.7, Hal. 327.

[3] Muhammad bin Ahmad al-Qurthubiy, al-Jami’ li-Ahkami al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet. 3 1964. Vol. 20, Hal. 225.

[4] Wahbah az-Zuhaily, at-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Daar al-Fikr, 1991. Vol.28, Hal. 137.

 

 

 

NASIONALISME SEBAGAI REPRESENTASI ‘IMARATU AL ARDL KAUM PESANTREN

NASIONALISME SEBAGAI REPRESENTASI ‘IMARATU AL ARDL KAUM PESANTREN

Oleh : Niswatus Sa’idah

Psantren memiliki sejarah yang panjang dalam memperjuangkan lestarinya syi’ar agama islam, bahkan sejak sebelum penjajahan Belanda sampai sekarang, ia senantiasa mempertahankan eksistensinya. Sebagai suatu komunitas agamis, ia juga ikut serta berperan menorehkan sejarah perjuangan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan sejak masih dalam masa kerajaan-kerajaan Nusantara berdiri, pesantren dengan ramah mensyi’arkan agama islam dengan cara akulturasi budaya oleh para ulama dan wali songo, dikarenakan banyaknya perbedaan di masyarakat serta menghindari terjadinya perpecahan dan peperangan di Nusantara.

Perjuangan kaum pesantren yang ada baik sejak sebelum maupun sesudah penjajahan di Indonesia cukup kuat menunjukkan betapa besarnya tekad nasionalisme dalam jiwa mereka. Kerelaan untuk berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga bahkan mengorbankan nyawa mereka demi membela tanah air hingga membuahkan hasil lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Pada saat masa penjajahan, pesantren berperan sebagai benteng dalam memperjuangan kaum tertindas dan menjadi motor penggerak memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan bagi seluruh rakyat Indonesia atas penjajah. Dengan begitu pesantren tidak hanya tampak berperan dalam dimensi keislaman yang pasif, namun juga berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI dari berbagai ancaman.

Nasionalisme merupakan suatu sikap politik atau pemahaman dari masyarakat suatu bangsa yang memiliki kesamaan cita-cita dan tujuan sehingga timbul rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari ancaman internal maupun eksternal. Sebagai warga negara yang baik haruslah menancapkan rasa nasionalisme yang kuat di dalam dada sebagai bentuk rasa cinta terhadap tanah air dan penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan terdahulu. Tidak terkecuali bagi para santri, mereka hendaklah mewarisi semangat perjuangan para ulama terdahulu dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara ini.

Pada masa sekarang pesantren tidak pernah berhenti menjalankan perannya dalam ranah keagamaan juga perannya sebagai agen perubahan negeri. Selain dididik dengan nilai-nilai agama, para santri juga dididik dengan nilai-nilai nasionalisme dalam rangka membangun karakter kebangsaan. Hal ini telah lama dicerminkan dalam ekosistem pesantren yang heterogen namun bisa bersatu dan melebur perbedaan yang ada dan memiliki tujuan atau cita-cita yang sama. Dengan ini menunjukkan bahwa pesantren telah merealisasikan faham nasionalisme sejak dini di wilayahnya sendiri. Dan seterusnya pesantren melakukan beragam upaya pembekalan santri untuk menghadapi hal-hal yang mengancam keutuhan NKRI. Sebagai contohnya, ketika Islam berada di tengah era modernisasi rawan dipandang sebagai agama teroris. Lembaga-lembaga Islam seperti pesantren dituduh sebagai tempat kaderisasi radikalisme dan terorisme, sehingga para santri sampai dicurigai sebagai oknum yang radikal dan teroris. Pandangan seperti ini tentu sangat merugikan pesantren yang dianggap tidak menjalankan nilai-nilai nasionalisme atau cinta tanah air. Padahal jika menilik sejarah Indonesia, sudah jelas perjuangan pesantren sangatlah besar dalam membela bangsa dan negaranya. Telah dibuktikan dengan jasa para ulama dan para santri yang telah mencurahkan segenap jiwa dan raga mengusir penjajah demi menjaga keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia.

Sejatinya manusia harus menjaga keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrawi, terlebih manusia memiliki dua tugas sebagai khalifatullah fi al ardl, yakni ibadatullah dan ‘imaratu al ardl. Dengan membawa spirit ini, pesantren tidak hanya berperan sebagai suatu institusi keilmuan yang hanya berfokus pada nilai-nilai keagamaan namun juga menjalani perannya sebagai motor penggerak peradaban di bumi, khususnya di Indonesia. Nasionalisme menenjadi salah satu representasi dari sikap yang mencerminkan tugas ‘imaratu al ardl, yakni menjaga ketentraman dan kesejahteraan di bumi, sehingga dalam menyiapkan insan yang shalih, pesantren senantiasa berupaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme dalam setiap individu santri. Diwujudkan di antaranya melalui upaya penanaman nilai-nilai ke-aswaja-an yang moderat, deradikalisasi santri, serta pendidikan bela negara untuk membekali santri menghadapi tantangan zaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membangun Kembali Sikap Nasionalisme Santri

Membangun Kembali Sikap Nasionalisme Santri

Oleh: Siti Ruchilah

Isu-isu Nasionalisme selalu menjadi topik perbincangan hangat di semua lapisan masyarakat terutama di pihak kubu Islam. Karena memang yang selalu berisik ialah orang-orang Islam sayap kanan.

Allah berfirman:

ولو انّا كتبنا عليهم أن اقتلوا أنفسكم أو اخرجوا من دياركم ما فعلوه الاّ قليل منهم

Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya kami perintahkan kepada mereka (Orang-orang munafik): ‘bunuhlah dirimu atau keluarlah kampung halamanmu!’ niscaya mereka tidak akan melakukan nya, kecuali sebagian kecil dari mereka…” (Q.S. An-Nisa’: 66)

Dari ayat diatas kemudian Syaikh Wahbah Zuhaily dalam tafsirnya al- Munir fi al-Aqidah wa al-Syaria’ah wa al-Manhaj menyebutkan: “Dalam firman Allah أو اخرجوا من دياركم terdapat isyarat cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” (Wahbah al-Zuhaily, al- Munir fi al-Aqidah wa al-Syaria’ah wa al-Manhaj, Damaskus, Dar el-Fikr, 1418 H, Juz 5, hal. 144).

Pada abad ke-18 Nasionalisme muncul di daratan Eropa. Nasionalisme muncul karena adanya persamaan sikap dan perilaku dalam memperjuangkan nasib yang sama. Menurut Hans Kohn Nasionalisme ialah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu kepada negara dan bangsa. Sedangkan Ernest Renant menyatakan Nasionalisme ada ketika muncul keinginan untuk bersatu. Kemudian pada abad ke-20 Nasionalisme menyebar dan berkembang di wilayah Asia, Afrika dan Amerika Latin. Tumbuh dan berkembanganya Nasionalisme ini dipengaruhi oleh para ilmuan dan budayawan. Ada dua unsur yang sangat penting dalam Nasionalisme, yaitu Persatuan dan Kemerdekaan. (Nasionalisme Asia, Feri Sugianto, Dewarti Press, Kalimantan Barat, Cetakan I, 2018, hal. 5)

Fakta ini menjadikan sebagian muslim mamang dalam menerapkan sikap nasionalisme, terutama orang-orang Islam sayap kanan. Menurut mereka apa-apa yang berasal dari negara Barat itu haram. Pada 30 November 2012, Felix Siauw membuat Tweet pada akun twitter nya yang berbunyi “membela Nasionalisme nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya | membela islam jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya”. Namun, mayoritas muslim bersikap moderat atau menerima Nasionalisme selama hal itu sejalan dengan agama Islam.

Di Indonesia sendiri banyak sekali ulama yang memiliki sikap nasionalisme (cinta tanah air). Seperti K.H. Wahab Chasbullah, Kyai Diponegoro (Pangeran Diponegoro), dan K.H. Hasyim (mbah Hasyim).

Peran Kyai Wahab dalam Nasionalisme diantaranya:

Pertama, beliau membangun spirit Nasionalisme dalam jiwa rakyat Indonesia ketika mereka hendak melawan penjajahan.

Kedua, beliau merupakan pemimpin pasukan perang barisan kaum mujahidin.

Ketiga, seperti yang kita ketahui bahwa lagu syubbanul wathan adalah ciptaan beliau.

Keempat, ketika banyak pihak terutama elit politik saling bersinggungan, beliau menciptakan silaturahmi nasional atau pada waktu itu disebut dengan “halal bihalal”. Hal ini dapat kita jumpai hingga sekarang dimana biasanya pada satu tahun sekali setiap keluarga besar memiliki acara halal bihalal dengan dihadiri oleh kerabat-kerabat jauh.

Selain Kiai Wahab Chasbullah, ada juga pangeran Diponegoro. Pada saat terjadi perang di daerah Yogyakarta, (bahkan konon katanya perang ini merembet pada seluruh lapisan masyarakat Jawa, sehingga dinamakan Perang Jawa) atau yang kita kenal perang Diponegoro dapat kita ketahui bahwa perang tersebut merupakan perang antara kaum santri dan penjajah Belanda, dimana pangeran Diponegoro atau biasa disebut Kyai Diponegoro sebagai pemimpin nya. Beliau merupakan seorang yang ‘alim ilmu agamanya. Beliau membangun aliansi dengan pesantren-pesantren yang memiliki kekuatan militer yang tinggi. Pada saat kalah dalam peperangan, para Kyai dan santri yang ikut berperang kemudian kembali ke pesantren dan membangun kekuatan intelektual. Pada dekade setelahnya mereka kembali berjuang.

Siapa sih yang tidak mengenal mbah Hasyim? Sikap Nasionalisme mbah Hasyim dapat kita lihat ketika Founding Father Indonesia, Bapak ir. Soekarno atau biasa dipanggil bung Karno mengahadap pada mbah Hasyim dan beliau bertanya apa hukum membela tanah air? Dijawab tegas oleh mbah Hasyim bahwa hukumnya jihad fii sabilillah.

Maka dari itu, Sikap Nasionalisme para santri zaman dahulu wajib dijadikan teladan bagi santri-santri saat ini. Dahulu santri dijajah secara fisik. Namun saat ini kita sedang dijajah secara tidak sadar. Penjajahan etika dan moralitas bangsa serta agama sedang merebak dimana-mana, tidak terkecuali pada kalangan santri. Dimana hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam sudah menjadi hal yang “biasa” dilakukan, belum lagi devide et impera (politik adu domba) yang sedang marak-maraknya terjadi. Antara kubu satu dengan kubu yang lain saling melontarkan ejekan (olokan) di media sosial, tanpa adanya sebuah penyelesaian. Sehingga orang-orang Islam menanggapi nya dengan pandangan yang berbeda-beda, dan menimbulkan persepsi negatif dari masyarakat lainnya.

Isu-isu khilafah, suara gonggongan anjing, bahkan sampai toa masjid yang menyerukan adzan, jangan sampai menjadikan umat Islam terpecah-belah. Hal-hal tersebut merupakan pernyataan biasa namun digoreng oleh media agar menjadi suatu hal yang booommm, dengan maksud dan tujuan untuk memecah belah umat Islam.

Syaikh Ibnu ‘Allan memberikan tips untuk berbakti pada negara yaitu dengan melakukan tindakan yang baik dan positif. Sementara itu Sayyid Affandi memberikan tips untuk menumbuhkan sikap Nasionalisme, yaitu dengan cara belajar dan memperluas wawasan dan juga ilmu pengetahuan. Jika kita memiliki wawasan dan juga ilmu pengetahuan yang luas makan akan dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dan jiwa Nasionalisme perlahan akan tumbuh dengan sendirinya.