Beranda blog

PENERIMAAN SANTRI BARU MA’HAD ALY PESANTREN MASLAKUL HUDA TAHUN AKADEMIK 2022/2023

A. Ketentuan Umum Pendaftaran

1. Pendaftar adalah lulusan Madrasah Aliyah, SMA, Mu’adalah Aliyah, PDF Ulya, atau  Pesantren yang setara
2. Tidak menghadapi permasalahan hukum

B. Persyaratan Administrasi

  1. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 250.000,- disetorkan ke No. Rekening Bank BANK SYARIAH INDONESIA 7174251538 a/n MA HAD ALY PESANTREN MASLAKUL HUDA

2. Mengisi Formulir Pendaftaran (bisa diakses di sini) yang dilengkapi dengan upload dokumen sebagai berikut:

    • Scan Ijazah pendidikan terakhir yang telah dilegalisasi atau Surat Keterangan dari Pesantren
    • Scan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga dan KTP
    • File pas foto warna terbaru background merah ukuran 3 x 4 cm
    • Bukti transfer biaya pendaftaran

C. Jadwal Pendaftaran

Penerimaan Santri Baru dilaksanakan pada:

    • Gelombang I    : 3 Februari s.d. 17 April 2022 M / 1 Rajab s.d 14 Ramadhan 1443 H
    • Gelombang II   : 9 s.d. 19 Mei 2022 M / 8 s.d. 18 Syawal 1443 H
    • Jam Layanan    : 09.00 – 15.00 WIB
    • Contact Person : 085643879112 (Izzul) / 081-229-111-400 (Hamim)
    • Email               : kantor@mahally.ac.id

D. Alur Penerimaan Santri Baru

  1. Calon Santri Ma’had Aly mendaftarkan diri sesuai ketentuan;
  2. Calon Santri Mengikuti Ujian Seleksi Baca Kitab Fathul Qarib dan atau Fathul Mu’in
  3. Santri yang diterima melakukan daftar ulang / validasi.

E. Jadwal Ujian Seleksi

    • Gelombang I    : 18 Ramadan 1443 H / 21 April 2022 M
    • Gelombang II   : 20 Syawal 1443 H / 21 Mei 2022 M

Note:

💠 Persiapkan semua file berkas yang akan diunggah sebelum mengisi formulir;
💠 Formulir Pendaftaran bisa diedit jika diperlukan (menggunakan email yang sama);
💠 File berkas dapat disusulkan jika ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan;
💠 Apabila ada kendala saat pengisian formulir dapat menghubungi CP di atas;
💠 Peserta dapat memilih ujian secara offline (datang ke Ma’had Aly) atau secara online;
💠 Mekanisme ujian akan diinformasikan lebih lanjut;
💠 Apabila ada perubahan terkait ketentuan di atas akan diinformasikan kembali.

Brosur Penerimaan Santri Baru Tahun Akademik 2022/2023 Gelombang I

Ma’had Aly PMH Adakan Muhadloroh Ammah, Waketum PBNU Ungkap Pemikiran Fikih Syekh Nawawi al-Bantani

Senin (13/06), civitas akademika Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda sukses melaksanakan kegiatan Muhadloroh Ammah dengan tema “Pemikiran Fikih Syekh Nawawi al-Bantani” bersama narasumber KH. Zulfa Mustofa yang merupakan Wakil Ketua Umum PBNU dan dimoderatori oleh K. MA. Abdulloh Haris, wakil Mudir Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda. Kegiatan Muhadloroh Ammah tersebut bertempat di Aula Mubtadiat lt. II yang dihadiri oleh para santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda, mudir, para muhadlir, pengasuh YPMH, serta para tamu undangan dari pesantren dan perguruan tinggi sekitar.
Adapun rangkaian acara pada kegiatan tersebut ialah;
  1. pembukaan oleh MC
  2. pembacaan ayat suci Al-Qur’an
  3. menyanyikan Indonesia Raya
  4. sambutan pengasuh yayasan Pesantren Maslakul Huda
  5. acara inti; Muhadloroh Ammah
  6. pembacaan doa
  7. penyerahan hadiah 3 penanya terpilih
  8. penyerahan cinderamata kepada narasumber
  9. penutup oleh MC

Dalam sambutan yang disampaikan oleh pengasuh YPMH, KH. Abdul Ghofarrozin, beliau sedikit banyak menceritakan tentang Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau juga berharap dengan adanya kegiatan tersebut yang bertajuk pada fikih, semoga para santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda mampu mendalami ilmu fikih Ushul fikih secara mendalam.
“Ini menjadi hal penting karena Ma’had Aly di sini terfokuskan pada takhassus ushul fikih. Kita berharap semoga Ma’had Aly kita bisa menumbuhkan santri-santri yang memahami uhsul fikih secara mendalam.” Ungkap Gus Rozin.

Berangkat dari tema yang diusung pada kegiatan Muhadloroh Ammah tersebut, muncul beberapa pertanyaan mengenai Syekh Nawawi al-Bantani. Seperti apa corak pemikiran fikih beliau?
Apa kontribusi pemikiran beliau untuk bumi Nusantara?

Menginjak acara inti, yakni Muhadloroh Ammah. KH. Zulfa Mustofa merupakan cucu keponakan dari Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau juga merupakan teman sebangku Gus Rozin saat belajar di Madrasah Matholi’ul Falah, memang sejak dulu KH. Zulfa terkenal menyukai dan ahli dalam ilmu Arudl, yaitu ilmu yang menggubah syair dalam bahasa Arab. Dalam paparannya, beliau senandungkan beberapa bait syair gubahan pribadi yang juga dituangkan dalam salah satu masterpiece beliau, yaitu kitab Tuhfatu al-Qaasi wa ad-Daani fi Tarjamah asy-Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani. Salah satunya dalam memuji Syekh Nawawi, KH. Zulfa mengatakan:

وَمِنْ كِبَارِ عُلَمَاءِ الْجَاوِي ۝ التَّنَارِيُّ الأَصْلِ ثُمَّ الصَّاوِي

ِالْبَنْتَنِيُّ ثُمَّ الْأَنْدُوْنِيْسِيْ ۝ شَيْخُ الحِجَازِ سَمَّاهُ الْأُنَاسي

Artinya: “Dan diantara para pembesar ulama Jawa yaitu Syekh Nawawi Al-Jawi At-Tanari Ash-Shawi Al-Bantani al-Andunisi, yang juga diberi gelar dengan Sayyid Ulama al-Hijaz”

Menurut KH. Zulfa, dalam berfikih Syekh Nawawi memegang kuat dua prinsip, yaitu الثباتة (keteguhan) dalam hal-hal yang ashliyah dan qath’iyah, dan المرونة (kelenturan) pada hal-hal yang bersifat furu’iyah, sebagaimana sikap beliau yang meskipun mengharamkan rokok, namun tetap menerima jika ada teman ataupun tamu yang merokok di dekatnya. Selain itu, menurut KH. Zulfa, ajaran fikih Syekh Nawawi juga tergambarkan dalam kalimat:

الشريعة عدل كلها رحمة كلها حكم كلها مصالح كلها. فخرج من العدل إلى الجور ومن اليسر إلى العسر ومن الرحمة إلى ضدها فليس من الشريعة.

Artinya: “Inti daripada syariat adalah seluruhnya berisi keadilan, Rahmat, hikmah-hikmah, dan maslahah. Maka setiap yg keluar dari keadilan kepada penindasan, dari kemudahan kepada kesulitan, dan dari rahmat kepada selainnya, maka itu bukan termasuk dalam syariat.”

Di akhir penyampaiannya, beliau mendendangkan 2 bait syair lagi, menyindir terhadap  umat di era sekarang ini:

ما أكثر الدعاة من علماء اليوتوبي
فأفتى بالمشهد بلا رجع الكتب
ياحسرتا للغوغيل لأخذ السبب
وانما العلم بالإسناد والطلب

“Banyak orang berfatwa dari ulama YouTube
Melihat realita tidak membaca kutub
Bagi yang belajar dari Google disayangkan
Dengan sanad ilmu dikejar juga dengan tuntutan”

Penyerahan hadiah kepada 3 penanya terpilih
____________________

Oleh: Tim jurnalistik Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda

INTI ZAKAT: SIMBOL TANGGUNGJAWAB PENGELOLAAN HARTA

INTI ZAKAT:

SIMBOL TANGGUNGJAWAB PENGELOLAAN HARTA

Uraian Mengenai Zakat

Tiga pertanyaan berkenaan dengan zakat datang kepada saya. Pertama, tata cara menghitung zakat. Kedua, pemberian zakat di bulan Ramadlan. Dan ketiga pandangan kewajiban suami mengeluarkan zakat untuk istri yang sudah mempunyai penghasilan sendiri.

Untuk menjelaskan tata cara menghitung zakat, sebenarnya sederhana sekali, yaitu dengan mengalkulasikan semua kekayaan dan harta benda yang diperdagangkan, kemudian mengeluarkan zakat 2,5% bila hitungan tersebut telah mencapai nishab, (batas minimal seseorang berkewajiban membayar zakat).

Sebagaimana dijelaskan pengarang kitab Fathu Al-Qadir, dari kalkulasi tersebut pemiliknya berkewajiban mengeluarkan 2,5% darinya bila hitungannya telah mencapai nilai emas 77,30 Gram. Ditambah satu ketentuan lagi, perhitungan itu harus dilakukan ketika harta itu telah mencapai genap satu tahun (al-Haul).

Jika kedua hal itu (ketentuan nishab dan al haul) tidak terpenuhi, kewajiban membayar zakat menjadi gugur. Selain itu, juga ada satu persyaratan lagi, barang dagangan itu milik pribadi, bukan milik istri, anak-anak yang telah aqil baligh, atau orang lain jika terjadi pencampuran harta. Menurut al Anshari, dalam kitabnya, al Tahrir, yang memang telah memenuhi syarat satu nisab (meski dipisahkan belum mencapai) dan telah genap satu tahun, maka status harta tersebut tidak dibedakan dari harta milik orang lain. Hal itu dengan pengertian bahwa ketentuan zakatnya sebagaimana bila dimiliki oleh satu orang. Contoh konkret dari percampuran harta tersebut adalah seperti ketika harta suami dan istri k dikumpulkan untuk modal perdagangan yang kemudian diwujudkan dalam barang-barang pertokoan.

Sedangkan waktu pembayaran zakat, jika memang telah mencapai hitungan satu nisab dan genap satu tahun, seketika itu pula zakat harus dikeluarkan dengan tidak membenarkan adanya penundaan misalnya sampai bulan Ramadlan tiba.

Meski demikian, menunda pengeluaran zakat demi kemaslahatan yang lebih besar, misalnya menunggu adanya orang miskin yang lebih membutuhkan, dalam fiqh tidak ada hukum pelarangan, bahkan dinilai sebagai tindakan yang afdlal, lebih utama.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami, menunda memberikan zakat, tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan yang bermanfaat lebih besar, hingga bulan Ramadlan tiba tidak diperbolehkan, meski bulan tersebut teramat bernilai untuk memperbanyak ibadah. Karena masalah yang ada tidak kembali kepada penerima zakat, tetapi kembali kepada pihak pemberi.

Berbeda dengan zakat fitrah yang membayarnya dilakukan pada bulan Ramadlan. Dengan alasan ta’jil, cara mengeluarkan zakat sebelum waktu yang ditetapkan tiba, masih dalam batas toleransi.

Selanjutnya mengenai nafkah yang ditanyakan sebagaimana keterangan al-Syarqawi, secara singkat dapat diterangkan bahwa nafkah seorang istri lebih kaya daripada suami.

Karenanya, dalam masalah zakat fitrah yang wajib mengeluarkan atas istrinya adalah suami, tanpa memperdulikan bahwa istri mampu mengeluarkan zakat dengan hartanya sendiri. Karena dalam zakat fitrah seseorang yang mempunyai tanggung jawab memberikan nafkah, berkewajiban pula mengeluarkan zakat atas semua orang yang wajib di nafkahinya.

Namun, tidak menutup kemungkinan seorang istri merelakan hartanya dipegang suami yang kurang mampu, untuk digunakan sebagai nafkah. Tindakan itu dimaksudkan untuk menjaga kehormatan suami, agar tercipta kerukunan hidup dalam keluarga dengan saling membantu dan bersama-sama membina keluarga yang sakinah.

*Sumber: KH. MA. Sahal Mahfudh, Wajah Baru Fiqh Pesantren, (Jakarta: Citra Pustaka bersama KMF Jakarta), Cet. I November 2004. pernah dimuat di Harian Umum Suara Merdeka, dialog dengan Kyai Sahal, Jumat, 29 Desember 1995. Judul asli: Masalah Zakat dan Tanggung Jawab Suami

 

 

 

 

PRINSIP FIQH MENGHINDARI KESENJANGAN

PRINSIP FIQH MENGHINDARI KESENJANGAN

(Uraian Mengenai Menghadiri Halal Bi halal Diselenggarakan Secara Mewah)

Lebaran yang lalu, santri saya mendapatkan undangan halal bi halal. Sebelumnya ia ragu apakah harus menghadirinya atau tidak. Pasalnya, di saat kehidupan masyarakat masih diwarnai berbagai macam bentuk penderitaan, halal bi halal itu justru diselenggarakan dengan amat mewah atau setidaknya menghabiskan biaya cukup besar.

Dalam masalah tersebut, saya sarankan santri saya untuk selalu berpegangan pada satu prinsip bahwa acara halal bi halal sama sekali bukan merupakan bagian dari prinsip-prinsip undang dasar ajaran Islam.

Dari beberapa sikap dan perilaku Rasul, Islam hanya mengajarkan untuk saling meminta maaf (istihlal) antar sesama umat manusia. Wujud pelaksananya adalah datang dari pintu ke pintu, baik tetangga maupun yang lain.

Jadi, jelas tidak ada ketentuan harus melalui satu pertemuan yang di dalamnya antara lain mengagendakan acara berjabat tangan dan bermaaf-maafan, meski cara terakhir itu juga belum tentu menyimpang dan bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasul. Tidak terdapat satu permasalahan yang secara serius perlu dipersoalkan dalam hal bagaimana seharusnya menanggapi undangan halal bi halal. Fiqh, sebagai seperangkat hukum yang mengatur sendi-sendi kehidupan, tidak mempunyai aturan baku mengenai hal ihwal acara tersebut.

Karena itu, sebagai satu hal yang tidak berkenaan dengan tuntutan hukum pelarangan dan penganjuran, halal bi halal diberlakukan menurut kaidah fiqh yang telah ada. Artinya, boleh-boleh saja untuk dihadiri dan tentu boleh pula untuk ditinggalkan. Kaidah al aslu al Ibahah masih terus relevan untuk mendasarinya, selama pelaksanaan halal bi halal secara penuh tetap terjiwai oleh norma-norma yang diperbolehkan, tanpa unsur larangan dan perintah. ini sikap semula untuk memperlakukan acara tersebut.

Namun, karena ketika pelaksanaan merembet ke masalah-masalah lain, lebih-lebih yang menyangkut prinsip, maka fiqh akan berbicara dengan pembahasan berbeda. Sikap kita pun tidak selamanya terpaku pada satu patokan, yaitu sikap awal mula. Karena perwujudan istihlal dan meminta maaf akan bisa berjalan lebih maksimal jika ditunjang acara semacam halal bi halal, maka fiqh kemudian datang dengan membawa satu anjuran, baik terhadap penyelenggaraan maupun menghadiri undangan.

Namun, bukan berarti fiqh adalah satu hal yang tidak menentu, melainkan karena eksistensi fiqh memang berfungsi sebagai perangkat hukum yang lebih menitikberatkan pada unsur-unsur kemaslahatan. tidak pula berbeda dari kasus-kasus lain.

Pada prinsipnya, penyelenggaraan halal bi halal tidak ada masalah. Faktor kemewahan, sebatas tidak israf (berlebihan), sebenarnya juga tidak perlu dipermasalahkan. Namun karena praktik sesuatu yang tidak bermasalah itu ternyata mampu menimbulkan kesenjangan sosial, dengan mereka yang hidupnya di bawah standar ekonomi, sehingga berakibat teramat fatal, maka pelaksanaannya berubah menjadi satu hal yang dilarang.

Kalau penyelenggaraan halal bi halal terjadi kemungkinan demikian, sebagai muslim kita harus bersikap; menghadiri undangan itu tidak lagi diperbolehkan, karena sudah barang tentu kita ikut berkecimpung dalam suatu yang dilarang.

Sikap tersebut sebagaimana penegasan dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, ketika satu larangan sulit dihindari tanpa meninggalkan hal lain (dalam kasus ini menghadiri undangan terlebih dahulu), maka hal lain tersebut diperintahkan untuk ditinggalkan.

Apalagi, halal bi halal yang status hukumnya sekadar ibabah (boleh), undangan-undangan yang wajib untuk dihadiri sekalipun, resepsi akad pernikahan misalnya, keharusan menghadirinya tidaklah selalu mutlak. Masih harus dipertimbangkan unsur-unsur mudarat yang ditimbulkan. Karena, antara lain faktor-faktor pemilahan antara si miskin dan si kaya. kewajiban menghadiri undangan menjadi gugur seketika.

*Sumber: KH. MA. Sahal Mahfudh, Wajah Baru Fiqh Pesantren, (Jakarta: Citra Pustaka bersama KMF Jakarta), Cet. I November 2004. pernah dimuat di Harian Umum Suara Merdeka, dialog dengan Kyai Sahal, Jumat,31 Maret 1995. Judul asli: Menghadiri Halal Bi Halal yang Mewah

 

 

 

 

 

MA’HAD ALY PESANTREN MASLAKUL HUDA MITRA PBSB KEMENAG RI 2022

Pada tahun akademik 2022/2023 calon santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh dapat mendaftarkan diri melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).

Program tersebut merupakan kerjasama Kementerian Agama RI dengan beberapa perguruan tinggi mitra, salah satunya adalah Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh.

PBSB dilaksanakan dalam bentuk pemberian beasiswa penuh bagi santri yang memiliki kemampuan akademik, kematangan pribadi, kemampuan penalaran, dan potensi untuk dapat mengikuti program pendidikan tinggi.

Informasi selengkapnya dapat diakses melalui tautan https://ditpdpontren.kemenag.go.id/pbsb/

Upaya Santri Milenial: Membendung Kabar Hoax dan Mencegah Masuknya Paham Radikalisme di Era Digital

Upaya Santri Milenial: Membendung Kabar Hoax dan Mencegah Masuknya Paham Radikalisme di Era Digital

Oleh: Sandi Juliyansyah

Era digital saat ini, di mana informasi dan teknologi berkembang begitu pesat. Berbagai macam dan bahkan ribuan informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat hanya dengan hitungan detik. Informasi yang dulunya dapat diperoleh melaui lisan ke lisan, surat kabar, koran, buku, jurnal ilmiah dan majalah, kini dapat diperoleh melalui gawai internet. Pada tataran praktis, hal ini dapat dikatakan sebagai kabar baik, karena berbagai informasi begitu mudah dan cepat diakses, tanpa harus keluar rumah terlebih dahulu untuk membeli koran, majalah dan sebagainya. Namun, disisi lain, tak jarang informasi yang diperoleh tidak mencapai tingakat kevaliditasan. Sehingga banyak kabar-kabar hoax yang tersebar dan masuknya paham-paham radikalisme yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.

Sebagai anak bangsa yang menyandang gelar santri, sudah seharusnya memberikan kontribusi dalam menahan lajunya arus penyebaran informasi hoaxs dan faham-faham radikalisme di negeri tercinta Indonesia. Santri sebagai agen perubahan harus lebih terbuka terhadap dunia luar dan perubahan zaman. Artinya, di samping memperdalam ilmu agama (tafaqquh fi ad-din), para santri juga harus membekali diri dengan keterampilan dalam dunia digital. Karena hal tersebut merupakan keniscayaan pada zaman ini yang harus disikapi secara bijak. Keterampilan dalam dunia digital ini kerap dikenal dengan istilah literasi digital. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Abdulloh Hamid dalam bukunya “Literasi Digital Santri Milenial” beliau memberikan konklusi tentang defenisi literasi digital secara sederhana yaitu, sebuah kemampuan untuk memahami dan mengunakan informasi dalam berbagai format dari beragam sumber yang disajikan melalui komputer atau secara digital. [1]

Adanya keterampilan dalam dunia digital, selain dituntut untuk dapat mengerti, memahami dan memanfaatkan sumber informasi dalam berbagai format, para santri juga diharapkan mampu mengoprasikan berbagai perangkat lainya yang mendukung. Hal ini tidak lain, agar para santri mampu beradaptasi dan berperan dalam dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan demikian, penyebaran informasi yang sifatnya tidak valid dapat difilter secara teliti. Sehingga informasi yang diperoleh bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya. Dalam buku yang sama Dr. Abdulloh Hamid juga memetakan tentang konsep strategi dalam meninjau kebenaran suatu informasi yakni:[2]

  1. Konsep Tabayun

Tabayun ialah mengkonfirmasi atau melakukan cek dan ricek atas kabar apapun. Karena sejatinya, suatu informasi atau kabar bisa saja salah bisa juga benar. Pada dasarnya, tabayun merupakan konsep al-Qur’an untuk lebih selektif dalam menerima suatu kabar atau informasi bersamaan dengan melakukan konfirmasi tentang kebenarannya.

  1. Konsep Tashawwur dan Tashdiq

Dalam dunia pesantren kedua istilah ini memang sangat populer. Secara bahasa Tashawwur dapat berarti menggambarkan atau membayangkan, sedangkan secara istilah dapat didefenisikan sebagai pengetahuan atau gambaran terhadap sesuatu yang tidak disertai penghukuman atas sesuatu tersebut (idrak al-syai’ ma’a ‘adami al-hukmi ‘alaihi). Tashawur dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu; ada yang bersifat dharuriy (tidak butuh penalaran terlebih dahulu) dan ada yang bersifat nazhariy (membutuhkan penalaran). Hanya saja tashawwur yang sifatnya dharuriy dan nazhariy ini tidak boleh disebarkan. Sedangkan Tashdiq secara bahasa bermakna pembenaran atau persetujuan. Tashdiq dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu; dharuriy dan nazhariy. Sederhananya, jika tashawwur adalah hanya sebuah gambaran maka tashdiq adalah tashawwur (gambaran) yang disertai dengan hukum.

  1. Konsep Ilmu Takhrij al-Hadits

Dalam penjelasannya, Dr. Abdulloh Hamid mengutip pendapat dari Mahmud Thahan dalam Taysiru Musthalahil Hadits yang menggemukakan bahwa syarat hadits shahih ialah:

ما اتّصل سنده بنقل العدل الضابط عن مثله الى منتهاه من غير شذوذ و لا علة

“Setiap hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil, yang kuat hafalanya dari awal sampai akhir sanad, tidak terdapat syadz (keraguan) dan ‘ilat (cacat).”

Kelima syarat di atas, merupakan kreteria yang diterapkan pada kajian sanad dan hanya syarat yang keempat dan kelima yang digunakan pada kajian matan. Menurut beliau konsep Takhrij al-Hadits ini dapat dijadikan sebagai strategi dalam melihat kebenaran informasi yang beredar, yaitu dilihat dari siapa pembawa informasinya dan juga dilihat dari redaksi atau isi dari informasinya.

Kemudian, selain membendung lajunya arus peneyebaran berita-berita hoax, seyogyanya para santri juga ikut berpartisipasi dan berkontribusi dalam mencegah masuknya paham-paham radikalisme dalam negara Indonesia. Radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem masyarakat sampai ke akarnya.[3] Jika paham ini dibiarkan untuk terus menjelajah di samudra bumi nusantara, maka tentu hal ini akan memberikan dampak buruk bagi keutuhan NKRI. Dengan adanya perkembangan teknologi yang sedemikian rupa, peluang masuknya paham radikalisme juga semakin besar, terutama melalui media sosial.

Di era digital saat ini, para santri dituntut untuk melek akan teknologi, hal ini bertujuan untuk menyebarluaskan pandangan-pandangan islam yang moderat. Karena di era ini, media dakwah tidak hanya secara offline (berada dalam satu majelis) tapi juga secara online melalui media sosial. Adanya peran santri di media sosial diharapkan dapat memukul mundur paham-paham radikalisme dan dapat membumikan ajaran-ajaran islam yang moderat. Sehingga kedaulatan dan keutuhan NKRI akan senantiasa aman, terjaga dan jauh dari kata “kehancuran”.

Oleh sebab itu, para santri harus menjunjung tinggi nasionalisme. Nasionalisme merupakan paham kebangsaan dan cinta tanah air. Nasionalisme harus tertancap kuat dalam sanubari anak bangsa terkhusus bagi para santri demi menjaga semangat mempertahankan, siap berkorban dan berjuang demi bangsa dan negara sehingga keberagaman dari aspek agama, suku dan budaya dapat tetap terpelihara dan tetap menjadi power (kekuatan) riil yang memperkokoh kedaulatan NKRI. Dengan demikian, akan tercipta suasana kehidupan yang damai sentosa, saling menghargai, mengasishi dan melindungi satu sama lain.[4]

Pada dasarnya potret nasionalisme telah di gambarkan oleh Rasulallah SAW, hal ini terbukti ketika perjalanan hijrah menuju Madinah, di tengah perjalanan Rasulallah sangat merindukan tanah kelahiranya yaitu kota Makkah. Kemudia malaikat Jibril datang bertanya; “ya Rasulallah, apakah engkau merindukan negerimu?”, lalu Rasulallah menjawab; “Ya”. Kemudian turunlah ayat:[5]

إنّ الذي فرض عليك القرآن لرادّك إلى معاد ( القصاص:85)

“Sesungguhnya Allah yang mewajibkan kepadamu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an, maka Allah benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Makkah).” (QS. Al-Qashas:85)

Dalam pandangan Isma’il Haqiqi bin Musthafa al-Hanafi dalam Tafsir Ruh al-Bayan juz 4/320, ayat di atas mengandung isyarat bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman.[6]

و في تفسير الآية إشارة إلى أنّ حبّ الوطن من الإيمان

Bahkan Sayyidina Umar bin Khatab Ra mengatakan:

لولا حبّ الوطن لخرب بلد السوء، فبحبّ الأوطان عمرت البلدان

“Seandainya saja tidak ada cinta pada tanah air, niscaya negeri yang terpuruk akan semakin hancur, maka dengan adanya cinta pada tanah air , negeri-negeri akan termakmurkan”

Melihat untaian pemaparan di atas, dapat ditarik konklusi bahwa dalam menyikapi era digital saat ini yang banjir akan informasi. Para santri harus lebih teliti dalam memilah informasi yang ada agar tidak salah mengambil informasi. Ada tiga trik atau konsep yang ditawarkan oleh Dr. Abdulloh Hamid dalam bukunya “Literasi Digital Santri Milenial” yaitu; Tabayyun, Tashawwur dan Tashdiq serta Ilmu Takhrij al-Hadits. Kemudian dalam mencegah masuknya paham radikalisme dalam negara Indonesia, yaitu para santri harus ikut berperan aktif dalam berdakwah di media sosial dan menjunjung tinggi nasionalisme, dalam rangka membumikan ajaran-ajaran Islam yang moderat serta sebagai upaya memukul mundur paham-paham radikalisme. Upaya-upaya ini tidak lain bertujuan untuk menjaga eksistensi NKRI agar tetap aman, terjaga dan jauh dari kata “kehancuran”. Sebagaimana jargon yang masyhur:

حبّ الوطن من الإيمان

 

REPERENSI

  1. Abdulloh Hamid, Literasi Digital Santri Milenial, Jakarta: kompas gramedia, cetakan ke-2, 2021, hal. 123.
  2. , hal. 137 – 151.
  3. https://katadata.co.id/safrezi/berita/61e664b8b2ff9/radikalisme-adalah-pahamyang menghendaki-perubahan-ini-penjelasannya
  4. Tim Bahtsul Masail HIMASAL, Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di tengah Kebhenikaan, cetakan Lirboyo Press dan LTN Himasal Pusat, 2018, hal. 14.
  5. , hal. 15 – 16.
  6. Isma’il Haqiqi bin Musthafa al-Hanafi dalam Tafsir Ruh al-Bayan, al-Maktabah as-syamilah, juz 4, hal. 320. Dikutip dari buku Tim Bahtsul Masail HIMASAL, Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di tengah Kebhenikaan. cetakan Lirboyo Press dan LTN Himasal Pusat, 2018, hal. 16

Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam

Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Perspektif Islam

Oleh: Dama Adawiyan Ilyasi

Isu toleransi antar umat beragama di Indonesia merupakan salah satu isu keagamaan yang sering memunculkan perdebatan di kalangan publik. Beberapa waktu yang lalu, isu ini sempat muncul ke publik dan menimbulkan perdebatan sengit ketika seorang mubaligh menyampaikan pidato di dalam sebuah gereja di daerah Jakarta. Kasus inilah yang pada akhirnya menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, bagi kalangan yang setuju, masuknya mubaligh ke gereja bukanlah suatu hal yang salah, karena itu merupakan wujud toleransi dalam beragama. Sedangkan bagi kalangan yang kontra, masuknya mubaligh ke gereja dianggap sebagai suatu tindakan yang menyimpang dari syariat, karena hal itu merupakan bentuk kerelaan (ridha) terhadap kekufuran. Sampai saat ini masalah seperti demikian nampaknya masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan awam, sebenarnya bagaimana konsep toleransi antar umat beragama yang diajarkan oleh Islam, dalam wujud seperti apa ajaran toleransi diimplementasikan. Oleh karenanya, dalam tulisan ini, akan dipaparkan bagaimana konsep toleransi yang diatur oleh syariat Islam.

Sebelum lebih jauh membahas perihal konsep toleransi dalam Islam, ada baiknya untuk dicantumkan terlebih dahulu pengertian toleransi itu sendiri. Kata toleransi adalah bentuk kata benda (nomina), sedangkan kata sifatnya ialah toleran. Dalam KBBI, kata toleran memiliki arti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Kata toleransi ini diambil dari bahasa latin “tolerare” yang artinya dengan sabar membiarkan sesuatu. Dalam kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, kata toleransi berasal dari kata سمح yang mempunyai arti mengizinkan, membolehkan, membiarkan, memberi hak, menyetujui. Jadi, pengertian toleransi secara luas adalah sifat/sikap manusia yang menghargai/menghormati pendirian dan pilihan orang lain yang berbeda dengan pendiriannya.

Kembali ke inti pembahasan, di agama Islam terdapat ketentuan khusus terkait sikap toleransi antar umat beragama, konsep toleransi antar umat beragama telah termaktub di dalam wahyu, baik Al-Qur’an maupun sunnah. Untuk lebih jelasnya, akan diuraikan satu-persatu konsep-konsep toleransi dalam Islam beserta dalilnya dari nash Al-qur’an dan sunnah beserta penjelasan dari para ulama.

1. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk agama Islam, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 256:

ﵟلَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٥٦ﵞ [البقرة: 256]

Artinya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Sebab turunnya ayat ini—sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir at-Thabari dari sahabat Ibnu Mas’ud—adalah saat itu terdapat salah seorang sahabat dari kaum anshar yang bernama Hushain, ia memiliki dua anak beragama nasrani. Pada suatu ketika, ia memaksa kedua anaknya untuk masuk Islam, akan tetapi kedua anaknya tidak berkenan. Akhirnya terjadi perdebatan di antara mereka bertiga hingga akhirnya diadukan kepada Rasulullah Saw. dan kemudian turunlah ayat ini yang menegaskan tidak ada unsur keterpaksaan dalam memeluk agama Islam, karena bukti dan dalil kebenaran agama Islam sudah sangat jelas dan tidak butuh pemaksaan lagi.

2. Dilarang menghina agama/kepercayaan lain (Q.S. al-An’am ayat 108)

ﵟوَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرۡجِعُهُمۡ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٠٨ﵞ [الأنعام: 108]

Artinya: “”Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 108)

Dalam ayat ini, Allah Swt. mencegah umat Islam dari mencela sesembahan nonmuslim. Alasannya karena, jika umat Islam mencela sesembahan nonmuslim, maka nonmuslim tersebut akan melakukan balasan dengan menghina Allah Swt. secara zalim dan melampaui batas, padahal Allah tersucikan dari hal-hal yang mereka tuduhkan kepada-Nya. Ayat ini mengandung hikmah yang dalam, di mana sebuah kemaslahatan harus ditinggalkan ketika ia beresiko menimbulkan mafsadah yang lebih besar. sebagaimana bunyi kaidah:

درأ المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menghina sesembahan nonmuslim bisa mendatangkan maslahat, karena hal itu merupakan bentuk penghinaan terhadap kekufuran. Akan tetapi, menghina sesembahan nonmuslim juga bisa mendatangkan mafsadah, bahkan lebih besar jika dibandingkan maslahat yang ada, yaitu balasan nonmuslim dengan menghina Allah Swt.

3. Tidak ikut campur akidah dan ibadah agama lain (Q.S. al-Kafirun 1-6)

ﵟقُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ﵞ

Artinya: “”Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!(1), Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah(2), dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah(3), dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah(4), dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah(5), Untukmu agamamu, dan untukku agamaku(6).”

Ibnu Abbas menceritakan sebab turunnya ayat ini, bahwa Nabi pernah didatangi oleh beberapa orang kafir Quraisy, (mereka adalah Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin Abdul Muthallib, Umayyah bin Khalaf). Mereka mengajak Nabi untuk bersekutu dalam urusan peribadatan. Mereka bersedia menyembah Allah Swt. dengan catatan jika Nabi juga bersedia menyembah sesembahan mereka, lantas turunlah surat ini yang secara tegas menolak tawaran dari kafir Quraisy tersebut.

4. Boleh melakukan transaksi/bekerjasama dengan orang-orang non-muslim asalkan tidak dalam kemaksiatan (Q.S. al-Mumtahanah ayat 8-9).

ﵟلَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٨ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ أَن تَوَلَّوۡهُمۡۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٩ﵞ [الممتحنة: 8-9]

Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (8). Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim(9).”

Kedua ayat di atas menerangkan bagaimana sikap yang harus dipegang oleh seorang muslim terhadap keberadaan orang kafir. Pertama, sikap musālamah (berdamai). Hal ini ditujukan kepada kafir yang tidak memerangi umat Islam dan tidak mengusir kaum muslimin dari tanah mereka. Bagi kaum muslim diperkenankan untuk berbuat baik kepada mereka, seperti saling memberi, silaturahmi dan sebagainya. Kedua, sikap mu’ādah (bermusuhan). Sikap ini ditujukan bagi kafir yang memerangi umat Islam, kaum muslimin diperbolehkan, bahkan terkadang diwajibkan untuk memerangi mereka karena kezaliman yang telah mereka lakukan terhadap umat Islam.

Berdasarkan keterangan yang telah dipaparkan di atas, bisa disimpulkan bahwa agama Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama, karena toleransi antar umat beragama merupakan hal yang baik, untuk menciptakan sebuah kemaslahatan dalam urusan dunia. Akan tetapi jangan sampai penerapan toleransi antar umat beragama dilakukan melewati batas-batas yang telah ditentukan oleh syariat Islam. Jangan sampai atas nama toleransi seseorang mengatakan semua agama sama, atau beribadah dengan berbagai macam ajaran agama. Karena inti dari toleransi adalah sebuah sikap menenggang rasa terhadap kepercayan orang lain, tanpa intervensi dan ikut campur terhadap kepercayaan mereka.

Referensi

[1] Ibnu Jarir at-Thabari, Jāmi’ al-bayān ‘an ta’wīli āyi al-qur’ān, Mekkah, Daar at-Tarbiyyah wa At-turats, cet. tanpa tahun, Vol. 5, Hal. 409.

[2] Wahbah az-Zuhaily, at-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Daar al-Fikr, 1991. Vol.7, Hal. 327.

[3] Muhammad bin Ahmad al-Qurthubiy, al-Jami’ li-Ahkami al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet. 3 1964. Vol. 20, Hal. 225.

[4] Wahbah az-Zuhaily, at-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, Damaskus: Daar al-Fikr, 1991. Vol.28, Hal. 137.

 

 

 

NASIONALISME SEBAGAI REPRESENTASI ‘IMARATU AL ARDL KAUM PESANTREN

NASIONALISME SEBAGAI REPRESENTASI ‘IMARATU AL ARDL KAUM PESANTREN

Oleh : Niswatus Sa’idah

Psantren memiliki sejarah yang panjang dalam memperjuangkan lestarinya syi’ar agama islam, bahkan sejak sebelum penjajahan Belanda sampai sekarang, ia senantiasa mempertahankan eksistensinya. Sebagai suatu komunitas agamis, ia juga ikut serta berperan menorehkan sejarah perjuangan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan sejak masih dalam masa kerajaan-kerajaan Nusantara berdiri, pesantren dengan ramah mensyi’arkan agama islam dengan cara akulturasi budaya oleh para ulama dan wali songo, dikarenakan banyaknya perbedaan di masyarakat serta menghindari terjadinya perpecahan dan peperangan di Nusantara.

Perjuangan kaum pesantren yang ada baik sejak sebelum maupun sesudah penjajahan di Indonesia cukup kuat menunjukkan betapa besarnya tekad nasionalisme dalam jiwa mereka. Kerelaan untuk berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga bahkan mengorbankan nyawa mereka demi membela tanah air hingga membuahkan hasil lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Pada saat masa penjajahan, pesantren berperan sebagai benteng dalam memperjuangan kaum tertindas dan menjadi motor penggerak memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan bagi seluruh rakyat Indonesia atas penjajah. Dengan begitu pesantren tidak hanya tampak berperan dalam dimensi keislaman yang pasif, namun juga berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI dari berbagai ancaman.

Nasionalisme merupakan suatu sikap politik atau pemahaman dari masyarakat suatu bangsa yang memiliki kesamaan cita-cita dan tujuan sehingga timbul rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari ancaman internal maupun eksternal. Sebagai warga negara yang baik haruslah menancapkan rasa nasionalisme yang kuat di dalam dada sebagai bentuk rasa cinta terhadap tanah air dan penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan terdahulu. Tidak terkecuali bagi para santri, mereka hendaklah mewarisi semangat perjuangan para ulama terdahulu dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara ini.

Pada masa sekarang pesantren tidak pernah berhenti menjalankan perannya dalam ranah keagamaan juga perannya sebagai agen perubahan negeri. Selain dididik dengan nilai-nilai agama, para santri juga dididik dengan nilai-nilai nasionalisme dalam rangka membangun karakter kebangsaan. Hal ini telah lama dicerminkan dalam ekosistem pesantren yang heterogen namun bisa bersatu dan melebur perbedaan yang ada dan memiliki tujuan atau cita-cita yang sama. Dengan ini menunjukkan bahwa pesantren telah merealisasikan faham nasionalisme sejak dini di wilayahnya sendiri. Dan seterusnya pesantren melakukan beragam upaya pembekalan santri untuk menghadapi hal-hal yang mengancam keutuhan NKRI. Sebagai contohnya, ketika Islam berada di tengah era modernisasi rawan dipandang sebagai agama teroris. Lembaga-lembaga Islam seperti pesantren dituduh sebagai tempat kaderisasi radikalisme dan terorisme, sehingga para santri sampai dicurigai sebagai oknum yang radikal dan teroris. Pandangan seperti ini tentu sangat merugikan pesantren yang dianggap tidak menjalankan nilai-nilai nasionalisme atau cinta tanah air. Padahal jika menilik sejarah Indonesia, sudah jelas perjuangan pesantren sangatlah besar dalam membela bangsa dan negaranya. Telah dibuktikan dengan jasa para ulama dan para santri yang telah mencurahkan segenap jiwa dan raga mengusir penjajah demi menjaga keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia.

Sejatinya manusia harus menjaga keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrawi, terlebih manusia memiliki dua tugas sebagai khalifatullah fi al ardl, yakni ibadatullah dan ‘imaratu al ardl. Dengan membawa spirit ini, pesantren tidak hanya berperan sebagai suatu institusi keilmuan yang hanya berfokus pada nilai-nilai keagamaan namun juga menjalani perannya sebagai motor penggerak peradaban di bumi, khususnya di Indonesia. Nasionalisme menenjadi salah satu representasi dari sikap yang mencerminkan tugas ‘imaratu al ardl, yakni menjaga ketentraman dan kesejahteraan di bumi, sehingga dalam menyiapkan insan yang shalih, pesantren senantiasa berupaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme dalam setiap individu santri. Diwujudkan di antaranya melalui upaya penanaman nilai-nilai ke-aswaja-an yang moderat, deradikalisasi santri, serta pendidikan bela negara untuk membekali santri menghadapi tantangan zaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membangun Kembali Sikap Nasionalisme Santri

Membangun Kembali Sikap Nasionalisme Santri

Oleh: Siti Ruchilah

Isu-isu Nasionalisme selalu menjadi topik perbincangan hangat di semua lapisan masyarakat terutama di pihak kubu Islam. Karena memang yang selalu berisik ialah orang-orang Islam sayap kanan.

Allah berfirman:

ولو انّا كتبنا عليهم أن اقتلوا أنفسكم أو اخرجوا من دياركم ما فعلوه الاّ قليل منهم

Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya kami perintahkan kepada mereka (Orang-orang munafik): ‘bunuhlah dirimu atau keluarlah kampung halamanmu!’ niscaya mereka tidak akan melakukan nya, kecuali sebagian kecil dari mereka…” (Q.S. An-Nisa’: 66)

Dari ayat diatas kemudian Syaikh Wahbah Zuhaily dalam tafsirnya al- Munir fi al-Aqidah wa al-Syaria’ah wa al-Manhaj menyebutkan: “Dalam firman Allah أو اخرجوا من دياركم terdapat isyarat cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” (Wahbah al-Zuhaily, al- Munir fi al-Aqidah wa al-Syaria’ah wa al-Manhaj, Damaskus, Dar el-Fikr, 1418 H, Juz 5, hal. 144).

Pada abad ke-18 Nasionalisme muncul di daratan Eropa. Nasionalisme muncul karena adanya persamaan sikap dan perilaku dalam memperjuangkan nasib yang sama. Menurut Hans Kohn Nasionalisme ialah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu kepada negara dan bangsa. Sedangkan Ernest Renant menyatakan Nasionalisme ada ketika muncul keinginan untuk bersatu. Kemudian pada abad ke-20 Nasionalisme menyebar dan berkembang di wilayah Asia, Afrika dan Amerika Latin. Tumbuh dan berkembanganya Nasionalisme ini dipengaruhi oleh para ilmuan dan budayawan. Ada dua unsur yang sangat penting dalam Nasionalisme, yaitu Persatuan dan Kemerdekaan. (Nasionalisme Asia, Feri Sugianto, Dewarti Press, Kalimantan Barat, Cetakan I, 2018, hal. 5)

Fakta ini menjadikan sebagian muslim mamang dalam menerapkan sikap nasionalisme, terutama orang-orang Islam sayap kanan. Menurut mereka apa-apa yang berasal dari negara Barat itu haram. Pada 30 November 2012, Felix Siauw membuat Tweet pada akun twitter nya yang berbunyi “membela Nasionalisme nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya | membela islam jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya”. Namun, mayoritas muslim bersikap moderat atau menerima Nasionalisme selama hal itu sejalan dengan agama Islam.

Di Indonesia sendiri banyak sekali ulama yang memiliki sikap nasionalisme (cinta tanah air). Seperti K.H. Wahab Chasbullah, Kyai Diponegoro (Pangeran Diponegoro), dan K.H. Hasyim (mbah Hasyim).

Peran Kyai Wahab dalam Nasionalisme diantaranya:

Pertama, beliau membangun spirit Nasionalisme dalam jiwa rakyat Indonesia ketika mereka hendak melawan penjajahan.

Kedua, beliau merupakan pemimpin pasukan perang barisan kaum mujahidin.

Ketiga, seperti yang kita ketahui bahwa lagu syubbanul wathan adalah ciptaan beliau.

Keempat, ketika banyak pihak terutama elit politik saling bersinggungan, beliau menciptakan silaturahmi nasional atau pada waktu itu disebut dengan “halal bihalal”. Hal ini dapat kita jumpai hingga sekarang dimana biasanya pada satu tahun sekali setiap keluarga besar memiliki acara halal bihalal dengan dihadiri oleh kerabat-kerabat jauh.

Selain Kiai Wahab Chasbullah, ada juga pangeran Diponegoro. Pada saat terjadi perang di daerah Yogyakarta, (bahkan konon katanya perang ini merembet pada seluruh lapisan masyarakat Jawa, sehingga dinamakan Perang Jawa) atau yang kita kenal perang Diponegoro dapat kita ketahui bahwa perang tersebut merupakan perang antara kaum santri dan penjajah Belanda, dimana pangeran Diponegoro atau biasa disebut Kyai Diponegoro sebagai pemimpin nya. Beliau merupakan seorang yang ‘alim ilmu agamanya. Beliau membangun aliansi dengan pesantren-pesantren yang memiliki kekuatan militer yang tinggi. Pada saat kalah dalam peperangan, para Kyai dan santri yang ikut berperang kemudian kembali ke pesantren dan membangun kekuatan intelektual. Pada dekade setelahnya mereka kembali berjuang.

Siapa sih yang tidak mengenal mbah Hasyim? Sikap Nasionalisme mbah Hasyim dapat kita lihat ketika Founding Father Indonesia, Bapak ir. Soekarno atau biasa dipanggil bung Karno mengahadap pada mbah Hasyim dan beliau bertanya apa hukum membela tanah air? Dijawab tegas oleh mbah Hasyim bahwa hukumnya jihad fii sabilillah.

Maka dari itu, Sikap Nasionalisme para santri zaman dahulu wajib dijadikan teladan bagi santri-santri saat ini. Dahulu santri dijajah secara fisik. Namun saat ini kita sedang dijajah secara tidak sadar. Penjajahan etika dan moralitas bangsa serta agama sedang merebak dimana-mana, tidak terkecuali pada kalangan santri. Dimana hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam sudah menjadi hal yang “biasa” dilakukan, belum lagi devide et impera (politik adu domba) yang sedang marak-maraknya terjadi. Antara kubu satu dengan kubu yang lain saling melontarkan ejekan (olokan) di media sosial, tanpa adanya sebuah penyelesaian. Sehingga orang-orang Islam menanggapi nya dengan pandangan yang berbeda-beda, dan menimbulkan persepsi negatif dari masyarakat lainnya.

Isu-isu khilafah, suara gonggongan anjing, bahkan sampai toa masjid yang menyerukan adzan, jangan sampai menjadikan umat Islam terpecah-belah. Hal-hal tersebut merupakan pernyataan biasa namun digoreng oleh media agar menjadi suatu hal yang booommm, dengan maksud dan tujuan untuk memecah belah umat Islam.

Syaikh Ibnu ‘Allan memberikan tips untuk berbakti pada negara yaitu dengan melakukan tindakan yang baik dan positif. Sementara itu Sayyid Affandi memberikan tips untuk menumbuhkan sikap Nasionalisme, yaitu dengan cara belajar dan memperluas wawasan dan juga ilmu pengetahuan. Jika kita memiliki wawasan dan juga ilmu pengetahuan yang luas makan akan dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dan jiwa Nasionalisme perlahan akan tumbuh dengan sendirinya.

 

 

Penerapan Hukum Rajam di Indonesia

Penerapan Hukum Rajam di Indonesia

Oleh: Muhammad Sholeh

Hukuman rajam adalah hukuman mati kepada pelaku zina yang sudah menikah (muhshan) dengan cara dilempari batu atau sejenisnya sampai mati. Keberadaan hukuman rajam dalam ketentuan hukum pidana Islam ini merupakan hukuman yang telah diterima oleh hampir semua fuqaha. Rajam hanya dapat dilaksanakan apabila pelaku kejahatan benar-benar terbukti melakukan zina yang disaksikan oleh empat orang saksi. Hukum rajam dapat dibatalkan jika pelaku zina mencabut pengakuannya, para saksi menarik kembali kesaksiannya, serta terjadinya pengikaran oleh seorang pelaku zina.

Hukum rajam ini sendiri telah diberlakukan di beberapa negara timur tengah yang menempatkan hukum islam sebagai dasar negaranya. Dan di Indonesia terdapat daerah yang menerapkan hukum rajam dan cambuk bagi pelaku zina, yakni Aceh, yang memiliki hak otonom untuk mengatur daerahnya sendiri.

Di Indonesia sendiri telah terdapat hukum positif negara sebagai dasar untuk memutuskan suatu hukum, termasuk zina, yakni dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 284 ayat 1 yang mana pelaku zina diberi hukuman penjara selama sembilan bulan, baik mukhson maupun tidak. Dan pada ayat 2 disyaratkan harus ada pihak yang melapor ke pihak berwajib. Memang seperti yang telah diketahui, bahwa banyak hukum pidana islam yang tidak bisa begitu saja diterapkan di Indonesia, seperti halnya hukum potong tangan bagi pencuri, hukum qishash, dan had-had lainnya, karena beberapa faktor, salah satunya dinilai bertentangan dengan perlindungan HAM yang mana memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan menolak adanya segala bentuk kekerasan yang mengancam hak manusia. Namun adanya kesan “kejam” dalam beberapa hukum hudud akan sirna jika dilakukan kajian mendalam yang membahas tentang alasan dan hikmah dibalik penerapan hukum-hukum tersebut, karena semua hukum syari’at pasti didasari atas kemaslahatan bagi kau muslim.

Namun pasal yang mengatur tentang zina dinilai masih begitu lemah, dan tidak bisa memberikan efek jera pada pelaku. Dan juga kurang maksimal dalam penerapannya karena harus ada pihak yang melaporkan terlebih dahulu, sedangkan di era kemajuan teknologi sekarang ini malah mempermudah terjadinya praktek zina melalui prostitusi online yang sulit terlacak, apalagi dilaporkan. Maka, adanya peraturan KUHP masih belum bisa menjadi solusi atas maraknya praktek zina yang terjadi.

Posisi hukum islam di Indonesia hanya menempatkan diri di beberapa persolaan yang dapat diatur lewat peradila agama, yaitu tentang hal yang menyangkut hubungan keluarga dan persoalan waris. Penerapan hukum islam di Indonesia menggambarkan posisi yang dilematis, misalnya dalam rangka pelaksanaan hukum jinayah. Pada satu sisi hukum tersebut dipahami sebagai sesuatu yang harus ditaati sebagai perintah Tuhan, namun di sisi lain, negara kita bukanlah negara islam yang menetapkan syari’at sebagai dasar konstitusinya.

Dalam pandangan kasat mata, menunjukkan hukum pidana Islam sering terbentur dengan keadaan-keadaan yang sulit untuk didekati dengan hukum tersebut, baik itu berkaitan dengan HAM atau hukum positif yang berlaku dalam suatu negara. Karena hukum syari’at apapun yang akan ditetapkan harus tetap diletakkan dalam sebuah kerangka nasional dan hukum yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan kerangka hukum nasional.

Maka menurut penulis, pemberlakuan hukum rajam di Indonesia agaknya sulit untuk diterapkan secara mutlak karena terbentur oleh berbagai unsur, di antaranya: bertentangan dengan prinsip HAM, masyarakat yang majemuk dalam beragama, ketidaksiapan masyarakat dan pemerintah untuk menjalankannya. Di sisi lain, Undang-undang KUHP yang mengatur tentang hukuman zina juga masih dinilai lemah, maka dari itu, menurut penulis, perlu adanya tinjauan kembali terhadap ayat-ayat zina dengan mempertimbangkan kondisi di masyarakat, lalu mencari titik tengah antara hukum syari’at dan hukum positif, agar bisa dijalankan secara kontekstual dan dapat diterapkan serta diterima oleh masyarakat.

 

 

 

PERJUANGAN PESANTREN DALAM NASIONALISME DI TANAH AIR

PERJUANGAN PESANTREN DALAM NASIONALISME DI TANAH AIR

Oleh : Ulil Albab

Nasionalisme adalah sikap suatu politik terhadap masyarakat bangsa, yang mana mempunyai kesamaan dan wilayah, baik cita-cita dan tujuannya. Masyarakat bangsa dengan adanya nasionalisme merasakan adanya kesetiaan di dalam dirinya sendiri.
Muncul asal mulanya nasionalisme yaitu dari Barat (Eropa) pada pertengahan abad. Inti dari nasionalisme berupa cinta tanah air dan berjuang dalam memperjuangkan bangsa dan negara. Pada zaman Rasulullah sebenarnya sudah ada, misalnya pada era nabi Ibrahim as. Beliau selalu berdoa untuk keamanan, kemakmuran, dan keberkahan negeri.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :
{ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَـٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنࣰا وَٱجۡنُبۡنِی وَبَنِیَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ }
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. [Surat Ibrahim: 35]
Dan kisah nabi Muhammad Saw. Ketika hendak di usir dari Mekkah senghingga beliau berkata “sungguh aku di usir Mekkah, sungguh aku tahu bahwa Mekkah adalah wilayah yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah. Andai penduduk Mekkah tidak mengusirku, maka aku tak kan meninggalkan Mekkah”.
Sebagai mana bukti maupun fakta di atas, sebenarnya kelompok anti nasionalisme merupakan minoritas dalam umat Islam. Dalam kasus Indonesia sendiri, bahwa umat Islam tidak nasionalis tersirat dalam kebijakan pemerintah atau wacana yang berkembang dalam dunia politik pemerintahan Indonesia.
Pesantren di Indonesia merupakan usia yang sangat panjang, yaitu kurang lebih 600 tahun. Walaupun banyak yang berpendapat bahwa pesantren adalah suatu sistem pendidikan yang berasal dari luar Indonesia, namun di lihat dari usianya sudah cukup panjang, bahwa pesantren sudah menjadi alasan untuk menyatakan menjadi milik budaya bangsa Indonesia. Hal ini, pesantren sendiri sudah kaya akan sejarah nasionalisme dan perjuangan membela tanah air. Kemerdekaan yang sudah kita jalani selama 76 tahun ini tidaklah lepas dari peran pesantren. Banyak sekali kisah sejarah yang ikut berjuang memerdekakan Indonesia, baik dari golongan santri maupun tokoh pesantren.
Perang Diponegoro salah satu sejarah yang melibatkan pesantren, perang tersebut adalah perlawanan para santri melawan terhadap Belanda, yang mana pemimpin dari perang tersebut yaitu pangeran Diponegoro atau bisa di sebut “kyai Diponegoro” karena beliau adalah orang yang alim ilmu agama, kemudian kyai Diponegoro menaungi ulama-ulama besar berbagai daerah.
Kekalahan perang Diponegoro, para kyai, dan santri tersebut kembali ke pesantren untuk sementara, yang mana memulai setrategi dan membangun kekuatan intelektual, tujuannya agar generasi santri setelahnya ikut meneruskan perjuangan para kyai yang telah gugur. Para kyai dan santri pengikut Diponegoro tersebut yang akan melahirkan tokoh-tokoh nasionalisme dan menjadi pahlawan Indonesia.
Nasionalisme tokoh-tokoh pesantren sudah tampak jelas dalam berjuang memertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pesantren rela mengorbankan idealismenya (mendirikan negara agama Islam) Demi mempertahankan Indonesia yang baru lahir. Ketika Belanda ingin menguasai Indonesia setelah kemerdekaan para kyai, ulama, santri berada di garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan.
Sayangnya sekarang peran pesantren dalam nasionalisme di Indonesia kurang di hargai dan tidak ada dalam tulisan sejarah pesantren yang di publikasikan pemerintah Indonesia, karena itulah usaha mengingat sejarah tersebut dengan cara adanya penetapan 22 Oktober sebagai hari santri nasional.