Nafkah Kosmetik, Wajibkah?

584
Read Offline:

Apakah Kosmetik termasuk dalam Kewajiban Nafkah ?

*Musyawarah Santri Ma’had Aly Maslakul Huda

Pernikahan merupakan wujud ikhtiyar manusia untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya secara sah dan bertanggung jawab. Disamping itu pula pernikahan sebagai wujud komitmen manusia untuk menjalin kehidupan bersama salama-lamanya. Dengan demikian, perlunya menjaga hubungan baik diantara keduanya. Maka Al quran telah menegaskan tentang menjaga relasi antara suami dan istri yaitu:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ (النساء:19)

“Dan pergaulilah mereka dengan Ma’ruf” QS. An Nisa’ ayat 19.

    Ketika telah sah aqad nikah dan sang istri berkomitmen untuk mendedikasikan dirinya kepada sang suami, maka suami bertanggung jawab untuk menangung segala kebutuhan istri. Dengan ini hak istri dalam mengalokasikan harta dan bekerja terhalang kecuali dengan ridlo suaminya. 

    Dr. Wahbah Az Zuhaili menuturkan dalam bukunya Al Fiqhu Al Islamiy wa Adillatuhu bahwa seorang wanita akan terikat oleh suaminya paska berlangsungnya pernikahan, maka dari itu mereka tercegah atas membelanjakan hartanya dan bekerja dikarenakan telah mendedikasikan dirinya untuk suaminya. Maka menjadi kewajiban suami untuk menafkahinya dan mencukupi kebutuhan sang istri. Hal ini sesuai dengan  kaidah fiqh yang mengatakan bahwa“Al Ghurmu bi Al Ghunmi” (keuntungan muncul bersama resiko) dan  “al-kharaju bi adh dhoman” (hak mendapatkan hasil disebabkan oleh keharusan menanggung kerugian). oleh karena itu nafkah merupakan konsekuensi dari bentuk pencegahan. Jika seseorang mencegah atau membatasi orang lain untuk mengelola hartannya seperti buruh dan prajurit maka wajib bagi orang tersebut untuk mencukupi nafkahnya.

    Dalam relasi suami istri, suami menjadi pemegang tanggung jawab nafkah dan ini salah satu bentuk upaya untuk mempertahankan keutuhan dan eksistensi sebuah keluarga. Dr. Wahbah Az Zuhaili Menerangkan Nafkah secara harfiyah adalah hal -hal yang diberikan seseorang kepada keluarganya, dan Nafkah secara syariat yaitu makanan, pakaian,dan tempat tinggal (Sandang, pangan, papan). Ulama’ fiqh Sepakat bahwa kewajiban nafkah ditanggungkan kepada suami yang hadir, merdeka dan bukan aqad nikah yang fasid (rusak) dan wajib bagi suami untuk memenuhi kebutuhan nafkah semua kebutuhan makanan, minuma, pakaian, dan tempat tinggal. (Al Fiqhu Al islamiy wa Adillatuhu/juz 10)

Dalam Al Quran juga menuturkan:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ [البقرة : 233]

“Dan kewajiban ayah (suami) memberikan makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara yang baik”(QS. Al-Baqarah:233)

    An Nawawi Al Bantani menerangkan tentang kewajiban mewujudkan  pembantu, yaitu dengan mempertimbangkan latar belakang  keluarga sang istri. Jika istri dari keluarga yang mana saudara-saudaranya (anggotanya) tersebut harus mempunyai pembantu, maka wajib bagi  suami untuk mewujudkan pembantu meskipun dulunya istri tersebut sudah bisa mandiri tanpa dibantu oleh pembantu. Dan jika saudara -saudaranya (Anggotanya) tidak biasa menggunakan jasa pembantu, meskipun istri tersebut realitanya tidak bisa mandiri tanpa pembantu maka sang suami tidak wajib mewujudkan pembantu.(Nihayah Az Zain/hal 378)

    Mengenai besaran nafkah ada beberapa pandangan ulama terkait hal ini. Ibn Rusyd menerangkan bahwa para ulama berbeda pandangan menganai hal ini. menurut Imam Malik besaran nafkah tidak ditentukan oleh syara’ namun berdasarkan pada keadaan suami dan keadaan istri, dan ini juga berbeda-beda berdasarkan perbedaan tempat, waktu dan kondisi. dan ini juga sependapat dengan Imam Abu Hanifah. Dan Menurut Imam As Syafi’i bahwasanya nafkah itu besarannya ditentukan, maka bagi orang kaya nafkahnya 2 Mud, bagi orang yang sedang 1,5 Mud, dan bagi orang miskin 1 Mud.(Bidayatul Mujtahid/Juz 2)

    Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Mugni menuturkan tentang ketentuan nafkah, bahwasanya nafkah itu berdasarkan kondisi suami istri. Apabila keduanya orang kaya maka nafkahnya sebagaimana orang kaya, apabila termasuk orang yang miskin maka nafkahnya sebagaimana orang miskin, dan apabila termasuk orang yang menengah maka nafkahnya sebagaimana orang yang menengah. Jika salah satunya termasuk orang yang kaya dan satunya termasuk orang yang miskin maka nafkanya dengan ukuran orang menengah.(Al Mughni/Juz 10)

Adapun kosmetik pada dasarnya diperinci menjadi 2 bagian (Dilansir dari laman wikipedia.org)

  1. Kosmetik perawatan meliputi produk yang di gunakan untuk merawat tubuh termasuk krim kulit, lotion tangan dan tubuh (hand body), deodorant, parfum, sabun, masker wajah, dan sebagainya.
  2. Kosmetik rias umumnya di gunakan sebagai riasan area muka atau wajah seperti bedak, lipstik, perona pipi, perona mata, dan maskara termasuk produk untuk merias kuku dan rambut seperti kutek dan cat rambut.
 

    Pertama, kosmetik perwatan dalam khazanah klasik diterangkan bahwasnya salah satu kewajiban suami adalah memenuhi kebutuhan alat-alat kebersihan, seperti halnya sisir, cukil gigi, daun bidara dan minyak-minyakan meskipun digunakan untuk seluruh tubuhnya, seperti minyak zaitun, minyak wijen, samin dan lain-lain. Mengenai ketentuan hal-hal diatas berdasarkan kebiasan (Urf) masyarakat setempat dan penggunaanya disesuikan dengan kadar penggunaan istri disetiap minggunya. (Nihayah Az Zain/hal. 335)

    Qolyubi juga menuturkan dalam kitabnya Hasyiatan Qolyubi wa ‘Umairah bahwasanya perangkat untuk kebersihan seperti sisir, minyak -minyakan dari zaitun atau sebagainya, perangkat untuk membersihkan kepala seperti daun bidara dan sejenisnya, dan hal-hal untuk menghilangkan bau tak sedap selagi tidak hilang sebab air dan debu. Kecuali celak, cat warna, dan hal-hal untuk berhias karena hal ini tidak wajib bagi suami untuk memberi nafkah, ketika suami menginginkan istrinya berhias diri maka suami harus menyediakannya agar istrinya bisa berhias diri.(Hasyiatan Qolyubi wa “Umairah/Juz 4)

    Kedua, kosmetik rias seperti yang diungkapkan Qolyubi diatas tidak kewajiban bagi suami untuk memberi nafkah, berbeda jika suami menghendaki untuk istrinya berhias. An Nawawi menuturkan bahwa tidak ada kewajiban memberian nafkah pada kebutuhan parfum, celak, cat warna, dan hal-hal yang telah berlaku dalam kebiasaan sepertihalnya penggunaan mawar atau sejenisnya disela-sela telinga atau sebagainya bagi perempuan. Tetapi jika suami memberikan peralatan untuk berhias maka wajib bagi istri untuk menggunakannya, ketika suami menginkan istrinya untuk berhias.(Nihayah Zain/hal. 335)

Sedangkan Al Jaziri menuturkan mengenai pandangan terhadap kosmetik, bahwasanya beliau meyakini sesungguhnya realitas celak dan kosmetik sejenisnya  dikembalikan kepada suami, sebab dia sendiri yang menikmatinya bukan orang lain. Dengan demikian kosmetik dan sejenisnya berdasarkan ridlo dan suka atau tidaknya suami, sedemikian hingga jika istri tidak memakai kosmetik menjadikan kurangnya rasa cintanya suami maka wajib bagi istri untuk berhias. Begitu pula sebaliknya, jikalau cintanya tetap eksis tanpa istrinya perlu berhias dan malahan mengakibatkan ketidak senangan suami jika berhias, maka tidak wajib baginya untuk berhias diri, bahkan syariat islam sendiri orientasinya untuk memperkokoh rasa cinta antara mereka berdua. Maka dapat dipahami apapun tindakan yang menyebabkan putusnya ikatan keduanya maka tidak diperbolehkan.

Dan menurut beliau pandangan ini tidak berlawan dengan satupun dari para imam madzhab dan barang kali ulama yang berpandangan tentang kewajiban nafkah atas kebutuhan alat-alat kosmetik yang mana berdampak mafsadah jika istri tidak berhias diri itu memperhatikan jika istri tidak berhias diri maka berkurang kecantikannya dimata suami dan jika berkurang maka lemahlah rasa cinta suami terhadap istrinya.(Al Fiqhu ‘ala Al Madzahib Al Arba’ah/Juz 4).

Ibarot

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (10/ 7371)
معنى النفقة: بيّنت سابقاً أن النفقة لغة: هي ما ينفقه الإنسان على عياله. وهي شرعاً: الطعام والكسوة والسكنى، وعرفاً في إطلاق الفقهاء: هي الطعام فقط، ولذا يعطفون عليه الكسوة والسكنى، والعطف يقتضي المغايرة (1).


أما المعقول: فهو أن المرأة محبوسة على الزوج بمقتضى عقد الزواج، ممنوعة من التصرف والاكتساب لتفرغها لحقه، فكان عليه أن ينفق عليها، وعليه كفايتها، لأن الغرم بالغنم والخراج بالضمان، فالنفقة جزاء الاحتباس، فمن احتبس لمنفعة غيره كالموظف والجندي، وجبت نفقته في مال الغير


اتفق الفقهاء أيضاً على أن النفقة تجب على الزوج الحر الحاضر، فإذا سلمت المرأة نفسها إلى الزوج على النحو الواجب عليها، فلها عليه جميع ما تحتاجه من مأكول ومشروب وملبوس ومسكن.
سبب وجوبها: للعلماء رأيان فيه، فقال الحنفية: سبب وجوبها استحقاق الحبس الثابت بالنكاح للزوج عليها، ورتبوا عليه ألا نفقة على مسلم في نكاح فاسد، لانعدام سبب الوجوب وهو حق الحبس الثابت للزوج عليها بسبب الزواج؛ لأن حق الحبس لا يثبت في الزواج الفاسدز


نها ية الزين (378)
وعليه إخدام حرة تخدم والحاصل أن الزوجة إذا كانت ممن يخدم مثلها لكونها لا يليق بها خدمة نفسها، وجب عليه إخدامها، وإن لم تخدم بالفعل في بيت ابيها لشح مثلا. وإذا كانت ممن لايخدم مثلها لكن هذه خدمت في بيت أبيها بالفعل، لم يجب عليه إخدامها


بداية المجتهد – (2 / 54)
وأما مقدار النفقة فذهب مالك إلى أنها غير مقدرة بالشرع وأن ذلك راجع إلى ما يقتضيه حال الزوج وحال الزوجة وأن ذلك يختلف بحسب اختلاف الأمكنة والأزمنة والأحوال وبه قال أبو حنيفة وذهب الشافعي إلى أنها مقدرة فعلى الموسر مدان وعلى الأوسط مد ونصف وعلى المعسر مد.
وسبب اختلافهم:تردد حمل النفقة في هذا الباب على الإطعام في الكفارة أو على الكسوة وذلك أنهم اتفقوا أن الكسوة غير محدودة وأن الإطعام محدود


المغني لابن قدامة (8/ 195)
[مَسْأَلَةٌ عَلَى الزَّوْجِ نَفَقَةُ زَوْجَتِهِ]
(6455) مَسْأَلَةٌ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: (وَعَلَى الزَّوْجِ نَفَقَةُ زَوْجَتِهِ، مَا لَا غِنَاءَ بِهَا عَنْهُ، وَكِسْوَتُهَا) وَجُمْلَةُ الْأَمْرِ أَنَّ الْمَرْأَةَ إذَا سَلَّمَتْ نَفْسَهَا إلَى الزَّوْجِ، عَلَى الْوَجْهِ الْوَاجِبِ عَلَيْهَا، فَلَهَا عَلَيْهِ جَمِيعُ حَاجَتِهَا؛ مِنْ مَأْكُولٍ، وَمَشْرُوبٍ، وَمَلْبُوسٍ، وَمَسْكَنٍ. قَالَ أَصْحَابُنَا: وَنَفَقَتُهَا مُعْتَبَرَةٌ بِحَالِ الزَّوْجيْنِ جَمِيعًا؛ فَإِنْ كَانَامُوسِرَيْنِ، فَعَلَيْهِ لَهَا نَفَقَةُ الْمُوسِرِينَ، وَإِنْ كَانَا مُعْسِرِينَ، فَعَلَيْهِ نَفَقَةُ الْمُعْسِرِينَ، وَإِنْ كَانَا مُتَوَسِّطَيْنِ، فَلَهَا عَلَيْهِ نَفَقَةُ الْمُتَوَسِّطِينَ، وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا مُوسِرًا، وَالْآخَرُ مُعْسِرًا، فَعَلَيْهِ نَفَقَةُ الْمُتَوَسِّطِينَ، أَيُّهُمَا كَانَ الْمُوسِرَ

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kosmetik

Kosmetik adalah zat perawatan yang digunakan untuk meningkatkan penampilan  atau aroma tubuh manusia. Kosmetik umumnya merupakan campuran dari beragam senyawa kimia, beberapa terbuat dari sumber-sumber alami dan kebanyakan dari bahan sintetis.[1] Perihal atau tata cara menggunakan kosmetik disebut dengan tata rias atau make up.

نهاية الزين (ص: 335)

 (و) يجب (عَلَيْهِ) لَهَا (آلَة تنظيف) من الأوساخ الَّتِي تؤذيها وَذَلِكَ (كمشط) وخلال وَسدر (ودهن) وَلَو لجَمِيع بدنهَا وَيتبع فِي الدّهن عرف بَلَدهَا فَإِن ادهن أَهله بِزَيْت أَو شيرج أَو سمن أَو زَيْت مُطيب بورد مثلا وَجب وَيرجع فِي مِقْدَاره إِلَى كفايتها كل أُسْبُوع(لَا) يجب لَهَا عَلَيْهِ (طيب) وَلَا خضاب وَلَا كحل وَلَا مَا تتزين بِهِ وَمِنْه مَا جرت بِهِ الْعَادة من اسْتِعْمَال الْورْد وَنَحْوه فِي الأصداغ وَنَحْوهَا للنِّسَاء فَلَا يجب على الزَّوْج لَكِن إِذا أحضرهُ لَهَا وَجب عَلَيْهَا اسْتِعْمَاله إِذا طلب تزيينها بِهِ

(4/ 74) حاشيتا قليوبي و عميرة

(وَ) عَلَيْهِ (آلَةٌ تُنَظِّفُ كَمُشْطٍ وَدُهْنٌ) مِنْ زَيْتٍ أَوْ نَحْوِهِ، (وَمَا يُغْسَلُ بِهِ الرَّأْسُ) مِنْ سِدْرٍ أَوْ نَحْوِهِ (وَمَرْتَكٌ وَنَحْوُهُ لِدَفْعِ صُنَانٍ) إذَا لَمْ يَنْقَطِعُ بِالْمَاءِ وَالتُّرَابِ (لَا كُحْلٌ وَخِضَابٌ وَمَا يَزِينُ) بِفَتْحِ الْيَاءِ غَيْرُ مَا ذَكَرَهُ، فَإِنَّهُ لَا يَجِبُ فَإِنْ أَرَادَ الزِّينَةَ بِهِ هَيَّأَهُ لَهَا تَتَزَيَّنُ بِهِ

(4 / 264) – الفقه على المذاهب الأربعة

المؤلف : عبد الرحمن الجزيري

وبعض علماء المالكية يقول : إنه يفترض عليه أن يعالجها بقيمة النفقة التي تفترض لها وهي سليمة من المرض ومثل الطبيب القابلة – الداية – فإن في وجوب أجرتها على الزوج خلاف والظاهر أن عليه أجرتها ولو مطلقته وأما الكسوة فتفرض مرتين في السنة بحسب حالهما كما يأتي بيانه على أن تكسى في الشتاء بما يناسب فصل الشتاء والصيف بما يناسب فصل الصيف ويشترط أن تبلى الكسوة أما إذا ظلت قريبة من جدتها صالحة للاستعمال فإنها لا تفرض لها كسوة أخرى حتى تخلق ولا يفرض عليه ثياب الخروج لزيارة أهلها أو للعرس من ثوب حرير – بدلة الفرح – كما لا يلزمه الحبرة – والبالطو – أو نحو ذلك وقيل : إن كان غنيا يلزمه ويفرض عليه ما تتزين به النساء عادة وتتضرر بتركه كالكحل والدهن المعتادين والحناء والمشط وقد اختلف في الطيب ونحوه والذي يظهر من كلامهم أنه لا يجب عليه من زينتها إلا ما اعتادته بحيث تتضرر بتركه كالكحل ونحوه وعلى أن هذه النظرية تنتج أن المرأة إذا اعتادت مساواة الحواجب وتزيين وجهها بالأبيض – التواليت – بحيث لو تركته تنقص زينتها وتتضرر بتركه فإنه يجب عليه احضاره هذا ما يفهم من كلام السادة المالكية على التحقيق أما أنا فأعتقد أن الكحل وما يتبعه من أنواع الزينة يرجع في الواقع للزوج لأنه هو الذي يستمتع بها وحده دون سواه فإن كان في ذلك رضا له ومحبة فيه بحيث لو تركته تقل رغبته فيها فإنه يلزم به أما إذا كانت رغبته تنبعث إليها بدونه أو كان يكره فعله منها فإنه لا يلزمه به بل يجب عليها تركه لأن الشريعة الإسلامية تحث دائما على توطيد علائق المحبة بين الزوجين فكل ما يوجب النفرة بينهما لا يحل فعله وأظن أن هذه النظرية لا يخالف فيها أحد من أئمة المذاهب ولعل من أوجب على الزوج بعض أدوات الزينة التي تتضرر المرأة يتركها لاحظ أن تركها ينقص جمالها في نظر زوجها فتقل رغبته فيها

 

Read Offline:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here